Minggu, 25 Desember 2016

Selamat Natal

Sabtu 24 Desember 2016, Pukul 16.00 sore di depan televisi kamar tidur saya, secara tidak sengaja, dengan sebatang rokok ditangan kiri dan bersiap menyeruput segelas kopi, tampil di hadapan saya sebuah tayangan live event Metro TV. Di pandu presenter kawakan nan cantik yang otomatis tidak sulit bagi saya untuk menikmati pesonanya, ya, Prita Laura. Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya masih ingat betul, pernah berpose bersama mbak Prita dalam sebuah acara Ormas Nasdem dimana dia didaulat sebagai pembawa acara. 

Cahaya Indonesia di Vatikan, itulah judulnya. Di awali dengan perjalanan panjang dari Indonesia – Turki – Roma (jika saya tidak salah), tibalah sang Anchor cantik itu di Vatikan. Sekilas lewat layar kaca, Stato della Citta del Vaticano memang mempesona. Kesan yang saya tangkap dari Negara seluas 0.44 KM2 ini adalah sangat teduh dan menenangkan. Kekhusyukan umat Katolik yang sedang beribadah maupun para wistawan yang sekedar ingin menikmati kebesaran negara ini, membuat saya takjub. Nona Prita yang diliputi antusias tinggi segera menyusuri seluruh jalan, berkat jasa kameraman yang handal dan professional, saya pun turut mencium aroma aspal Vatikan dari televisi kecil saya.

Sempat mengikuti ibadah singkat berbahasa Indoensia di dalam sebuah Gereja, menurut nona manis ini adalah keberuntungan yang tak terkira dan perjalanan pun dilanjutkan. Suara merdu perempuan kelahiran tahun 1978 ini semakin membuat saya bangga, tatkala mewawancarai seorang cardinal yang merupakan orang kepercayaan Paus Fransiskus, dimana menurut sang Romo, Paus dan seluruh masyarakat Vatikan sangat mengidolai Pancasila. Sebagai orang Indonesia yang tunduk pada Ideologi negara, mata saya tak berkedip sedikitpun. Pancasila menurut sang Kardinal mewakili Paus, adalah sebuah pandangan hidup yang sangat kental dengan paham kemanusiaan universal dan hal ini sangat menginspirasi Paus beserta warganya. Luar biasa dan saya pun merenung.

Kejutan selanjutnya pun tiba, kali ini datang dari seorang petinggi Vatikan yang ternyata adalah orang asli Indonesia. Saya lagi – lagi menggelengkan kepala sembari tersenyum tanda penghormatan kepada beliau. Dengan senyum hangat khas Indonesia, lelaki paruh baya itu menyambut Prita dan tim, tentu dalam bahasa Indonesia yang fasih. Romo Markus diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Direktur Perdamaian Antar Agama Wilayah Asia Pasifik. Prita sempat diajak masuk ke dalam ruang kerjanya untuk berbincang – bincang. Di sela – sela obrolan mereka, Prita dengan lincah langsung melihat – lihat seisi ruangan. Yang menarik perhatian saya adalah ketika Prita meng-explore sebuah lemari yang terpajang berbagai benda penting (tentu bukan benda sembarangan yang diletakan disitu – menurut Romo) dan mempelototi satu persatu, tak berapa lama sampailah dia pada sebuah piagam penghargaan dengan logo sebuah organisasi yang akrab dengan saya, HMI. Tentu hal ini membuat saya bangga untuk kesekian kalinya, dimana HMI turut diperhitungkan Vatikan sebagai organisasi mahasiswa Islam yang membawa spirit perdamaian bagi seluruh dunia. Yakusa.

Ini yang membuat saya semakin merinding sekaligus sedih, perjalanan terakhir dari kunjungan sekaligus liputan ini adalah menjajal museum Vatikan. Sebuah museum terbaik di bumi, yang bernilai seni kelas kakap. Seluruh benda – benda bersejarah dari seantero dunia hadir disini. Prita pun segera melangkahkan kaki di sebuah ruangan berkaca yang tidak lain adalah stand khusus Indonesia. Di dalam terdapat berbagai karya seni asal Indonesia berupa patung, lukisan, pahatan relief, serta replika cantik candi Borobudur berserta penjelasan historisnya. Di sebuah sudut ruangan tepatnya disamping kanan pintu masuk, terbentang sebuah papan informasi besar yang berisikan penjelasan mengenai Indonesia. Pada kata – kata pembukanya tertulis, Indonesia adalah Negara Pluralis dan Toleran, dimana setiap orang yang berbeda suku dan agama dapat hidup secara rukun dan damai serta menjadi contoh bagi negara – negara di dunia. Seperti yang saya katakan pada saat mengawali paragraf ini, saya merinding dan sedih membaca profil Indonesia di dinding Museum Vatikan itu. Apa sebab? Liat saja kondisi bangsa saat ini apakah masih bisa dikatakan role mode bagi tumbuh kembangnya pluralitas dan toleransi?

Bahkan untuk mengucapkan selamat berhari raya diantara para pemeluk agama saja, butuh debat panjang dengan berbagai kelompok yang mengharamkan ucapan selamat bagi agama lain selain agama mereka. Padahal dasarnya saja masih gelap. Saya termasuk orang yang tidak ada masalah soal memberikan ucapan selamat kepada pemeluk agama lain. Saya menganggap ini tidak ada hubungannya dengan ketahanan iman. Persoalan iman bersentuhan langsung dengan tanggung jawab pribadi yang muatannya adalah tentang sejauh mana pribadi tersebut mengasah dan mempertajam keimanannya melalui usaha – usaha peningkatan mutu spritualnya.

Sebagai seorang Muslim, aqidah dan keimanan saya tidak serta merta tergerus kualitasya hanya dengan saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi seorang Kristiani (begitu juga sebaliknya). Hal itu menurut isi kepala saya merupakan penghormatan terhadap sesama manusia tidak ada yang lain. Juga dalam agama saya diajarkan untuk dapat membina hubungan yang baik antar sesama manusia dan menjaganya jangan sampai ada kerusakan dalam hubungan itu, selain tentu menjaga hubungan dengan Tuhan saya.

Sampai disini saya harus menyampaikan bahwa jangan takut untuk mengucapkan selamat berhari raya bagi pemeluk agama lain, jika Anda masih ragu atau merasa haram apabila melakukan hal tersebut, maka dapat dipastikan Anda adalah pribadi yang paling menjijikan di bumi yang haus akan kedamaian ini. Akhirnya dengan penuh penghormatan dan penghargaan, atas nama kemanusiaan, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Natal 25 Desember 2016 kepada seluruh umat Kristiani dimana pun berada. Tuhan Memberkati.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu dan sampailah di akhir acara live event dari Vatikan yang ditutup oleh presenter idola saya, Prita Laura. Saya sangat menikmati acara ini karena sangat berkelas dan memberikan banyak pengetahuan baru. Dan tentu membuat saya tak henti – hentinya berpikir sesekali merenung dengan apa yang barusan saya dapatkan. Otak saya terlalu liar untuk mencerna dengan cara yang biasa terkait berbagai hal yang berhubungan dengan perdamaian di muka bumi ini. Saking liarnya, dua jari di tangan kiri saya hangus terbakar karena mengira saya tidak pernah menyalakan sebatang rokok.**


Sabtu, 24 Desember 2016

No, Thanks

Beberapa minggu yang lalu dalam perjalanan pulang dari dari Jakarta ke Yogya, saya menerima sebuah SMS dari  nomor yang belum tercatat di handphone saya alias nomor baru. Kebetulan pada saat itu saya menumpangi Kereta Api Ekonomi Jaka Tingkir yang bertolak dari Jakarta Stasiun Pasar Senen Pukul 22.30 malam menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, yang diperkirakan akan tiba pada Pukul 07.30 pagi. Sebelum membuka SMS itu, mata saya masih sibuk, bersemangat bercampur penasaran mengejar kata demi kata yang tersusun rapi dalam satu buku yang saya tenteng menjadi pendamping paling berisik dengan berbagai gugatan terhadap kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam pengumpulan kekuatan ekonomi politik secara tidak sehat di Indonesia, curahan gugatan itu membuat hati saya tak henti – hentinya mengucapkan kata “waw” dan “oh begitu?”.  

Buku dengan judul Korupsi Kepresidenan ; Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga : Istana, Tangsi Dan Partai Politik terbitan LKiS Yogyakarta Tahun 2006, tentu dengan judul ganas seperti itu siapa lagi yang berani menulisnya jika bukan seorang Tokoh aktivis pergerakan kaliber berkelas dunia, dia adalah George Junus Aditjondro yang pada tanggal 10 Desember 2016 kemarin telah berpulang ke penciptanya dengan tenang di Palu, Sulawesi Tengah. Insya Allah seluruh amal kebaikan terutama kerja kerasnya dalam membongkar kejahatan kekuasaan yang zalim lewat penelitian dan tulisan yang ilmiah -saya juga pernah membaca hasil penelitian beliau mengenai rekayasa konflik berdarah antar agama di Maluku, Maluku Utara yang melibatkan elit politik lokal dan nasional- dapat menjadi modal utama Almarhum diterima dengan senyuman di sisi-Nya, Amin. R.I.P Om George.

Sejenak saya berhenti membaca sekaligus menandai halaman terkahir yang saya baca dari buku hebat itu. Mata saya langsung tertuju kepada SMS yang belum saya buka tadi. Seketika saya meraih handphone dan membaca SMS itu. Setelah membaca dengan seksama, ternyata SMS itu datang dari seorang teman lama yang akrab kami (saya dan teman-teman) sapa Tonton. SMS itu intinya adalah meminta kesediaan saya untuk bergabung dalam sebuah Group Whats App (WA), Group ini merupakan sebuah wadah alumni angkatan kuliah saya dulu di S1. Dengan sigap saya membalas SMS Tonton itu, yang intinya mengatakan saya belum bisa bergabung karena sampai dengan saat ini saya belum menggunakan aplikasi WA, mengingat handphone saya sudah tidak dapat lagi menginstall aplikasi lainnya karena keterbatasan storage. Tonton pun dapat memahami hal itu dan mengakhiri percakapan singkat kami lewat SMS dengan saling mendoakan agar sama – sama dapat lebih sukses di hari – hari kedepan. Amin.

Tanpa perintah, ingatan saya langsung terbang jauh kembali ke masa lalu, tentu dengan setengah tersenyum, refleks, bibir saya menyebut sebuah nama, Barton Anwar Hasto Widodo, yang tidak lain adalah nama sebenarnya dari teman saya tadi, Tonton. Masih berkutat dengan nostalgia ingatan, dengan terang saya dapat mengingat awal kebersamaan saya dengan Tonton. Pada awal – awal kuliah S1 dulu, saya dan Tonton sempat sekelas tepatnya dari semester I sampai VI. Dan jika saya tidak keliru, Tonton adalah Ketua kelasnya. Memang si Tonton ini dikenal sebagai seorang mahasiswa rajin serta komunikatif. Tidak hanya di dalam kelas, pertemanan saya dan Tonton berlanjut ke aktivitas luar kelas seperti nongkrong, belajar, berdiskusi, bermain, makan dan bertamasya bersama. Bahkan kami pernah bekerja sama dalam satu organisasi ekstra kampus, HMI. Dimana Tonton menjadi bawahan saya dalam struktur kepengurusan Komisariat di lingkungan fakultas kami,

Meskipun kami seangkatan, Tonton secara usia jauh lebih tua dari saya, karena setelah SMA Tonton tidak langsung makan bangku kuliah, dia memilih bekerja untuk memantapkan sakunya. Meski begitu dalam pertemanan antara saya dan Tonton, tidak mengenal tua dan muda. Kami tetap bergaul secara egaliter seperti teman sebaya pada umumnya, bahkan dalam titik yang paling ekstrem kami bisa saling mengejek satu sama lain bahkan menghina. Tentu semuanya masih dalam pakem guyonan. Di kalangan komunitas kami, Tonton dikenal agak sedikit pelit (berorientasi fulus), entah karena penghematan ataukah memang mau menabung untuk segera naik haji, hanya Tonton dan Tuhan yang tahu.

Saya termasuk orang yang mendorong Tonton agar dapat mengarahkan semua potensinya untuk bisa meningkatkan kemampuan organisatoris, dengan cara memberikan kesempatan kepada Tonton dalam setiap kegiatan organisasi, dimana Tonton selalu masuk dalam panitia inti di berbagai event. Dan memang Tonton bisa menyelesaikan semua tugas tersebut dengan hasil yang cukup maksimal. Tonton tampil perform dan menjadi motor penggerak kegiatan. Ketika itu saya dan teman – teman sangat puas dan memuji hasil kerja Tonton dalam berbagai hajatan kami.

Tonton lulus 6 bulan lebih cepat dari saya, dan setelah itu saya mendengar informasi dari teman bahwa Tonton memilih berkarir sebagai honorer di kantor Kejaksaan Tinggi. Mungkin ini adalah langkah awal dari Tonton untuk bisa mewujudkan cita – citanya menjadi seorang Jaksa. Sejak saat itu intensitas kami dalam pergaulan mulai menurun. Saya saat itu sedang sibuk – sibuknya mengurusi Skripsi yang terbengkalai akibat aktivitas extra kampus saya yang memerlukan konsentrasi lebih. Komunikasi kami benar – benar terputus pasca saya lulus dan pergi merantau mencari sesuap nasi di negeri seberang, Manado.

Kami pun tidak pernah lagi bertemu, seluruh kontak dengan Tonton lenyap. Sewaktu masih aktif menggunakan media sosial, pastinya dengan memanfaatkan waktu luang ketika sedang istrahat setelah seharian bekerja, sesekali saya iseng mengecek FB, tidak terlihat aktivitas FB dari Tonton, mungkin sudah di non aktifkan atau tidak digunakan lagi. Waktu pun berlalu dan kami benar – benar tidak pernah sekalipun bertegur sapa lagi, saya mahfum karena kondisi dan situasi sudah berbeda. Kami telah merelakan diri ditenggelamkan dalam urusan masing – masing dan tentu sangat beresiko apabila mencoba menanggalkan rutinitas itu.

Tahun – tahun berlalu begitu cepat, saya asyik dan menikmati pekerjaan, sehingga melupakan segalanya, termasuk Tonton. Kemudian ketika bertukar kabar, canda dan informasi dari seorang teman, yang juga sengkatan dengan saya dan Tonton, terseliplah pertanyaan dari saya tentang keberadaan si Tonton. Tak disangka berdasarkan paparan teman saya, pada saat itu Tonton telah meninggalkan pekerjaannya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di salah satu Universitas Swasta unggulan Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai teman saya turut mengapresiasi langkah Tonton ini, yang merupakan langkah maju dan terbaik.

Beberapa saat setelah percakapan saya dengan teman itu, saya menerima sebuah panggilan dari handphone saya dari sebuah nomor baru, dan ternyata itu dari Tonton. Kami pun langsung tertawa bersama dan menceritakan perkembangan kehidupan kami masing – masing. Setelah selesai berbasa – basi, Tonton mengutarakan inti dari tujuannya menelpon saya, dia mengalami kesulitan keuangan dan meminta saya untuk membantunya. Tapi saat itu rupanya bukan hari keberuntungan Tonton, karena saya pun mengalami masalah yang sama dengannya, dimana saya harus mempersiapkan masa transisi yang memerlukan banyak pengeluaran tanpa pemasukan, setelah mengajukan surat permohonan resign dari tempat kerja saya. Dan mirip Tonton, saya memutuskan melanjutkan study S2 di kampus yang juga adalah kampus yang sama dengan Tonton. Kami pun mengakhiri percakapan dengan hati yang kurang enak karena apa yang diharapkan Tonton belum bisa saya penuhi.

Sekitar 7 bulan kemudian saya mendaratkan kaki dengan selamat di Kota Yogyakarta yang konon kata beberapa “dukun cinta” adalah Kota yang paling romantis. Hal ini kata si dukun – dukun itu dapat di lihat dan dibuktikan dari setiap sudut Kotanya. Butuh waktu 2 bulan untuk membuktikan dan ternyata, benar. Saya tidak sabar lagi untuk segera memulai proses perkuliahan, karena berkat pertolongan Allah S.W.T, saya lulus dan diterima sebagai Mahasiswa Program Pascasarjana di kampus unggulan Indonesia tersebut.

Di sela – sela persiapan perkuliahan saya, terbesit di pikiran untuk menghubungi Tonton, sekedar ngopi dan bertatap muka karena setelah bertahun - tahun tidak bersua. Setelah dihubungi berulang - ulang ke telepon selulernya, si Boss Tonton in tidak pernah menanggapinya alias tidak pernah mengangkat. Bahkan pada waktu itu setiap 5 menit saya selalu berusaha menghubunginya. Yang mengherankan dia sempat membalas SMS saya mengatakan sedang berada di tempat temannya, tapi ketika di calling tidak ada jawaban hanya terdengar  nada masuk panggilan yang merdu itu.

Kegiatan menelepon Tonton ini saya laksanakan selama seminggu baik pagi, siang ataupun malam dan yang saya dapatkan lagi – lagi hanya tertawaan dari nada masuk panggilan yang merdu itu. Saya sempat tertawa sekaligus takjub, karena selama hidup, saya baru menemukan orang yang sibuknya kelas wahid sehingga tidak sempat menjawab teleponnya baik pagi, siang dan malam. “Gila! masih mahasiswa S2, belum jadi Presiden lho”, kata – kata itu mampir dan bertengger manis di benak saya. Sebagai manusia biasa, perasaan saya langsung memainkan perannya. Tak diduga, perasaan saya ternyata memainkan perannya dengan sangat apik, sehingga sampai pada 3 kesimpulan, Pertama, si Tonton mungkin tidak ingin menemui saya karena tahu saya tidak lagi bekerja sehingga takut dirinya dimintai uang sumbangan, Kedua, mungkin menurut dia tidak ada gunanya menemui saya karena sudah bisa dipastikan saya tidak dapat memberinya uang sumbangan, Ketiga, mungkin dia sudah mencoret saya dari daftar temannya. Padahal saya hanya ingin menyambung tali silaturahmi, tidak lebih. Jujur saja pada saat itu saya sulit berprasangka baik padanya, saya terlalu lama mengenal cara anak ini berfikir dan bertindak, sehingga sulit bagi saya untuk membunuh prasangka buruk. (belakangan saya mendapat informasi dari teman dan telah terkonfirmasi kebenarannya, bahwa si Tonton ini sewaktu berada di Ternate dalam rangka mengurus kepentingan pribadinya, meminta partisipasi aktif dari teman – teman seperjuangan saya dulu serta beberapa Alumni HMI untuk dapat membantu mencarikan uang tiket pesawat agar dirinya dapat kembali ke Yogyakarta melanjutkan aktivitas perkuliahannya. Ketika tiket telah didapatkan dan sewaktu tiba di Yogyakarta, Sang Tonton langsung menghilang tanpa mengabari orang – orang yang telah membantunya itu. Yang paling melukai hati adalah ketika dirinya dimintai tolong oleh seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk membawa serta sebuah laptop bersama barang bawaannya kembali ke Kota Gudeg ini, dirinya menolak memberikan pertolongan dan langsung menaiki pesawat tercintanya. Selain menampakan kecacatan moril Tonton, peristiwa ini juga menunjukan ketololan para teman yang membantu kepulangannya ke Yogyakarta)

Setelah menimbang – nimbang dan berfikir secara mendalam, saya memutuskan tidak lagi menghubunginya dan ini akan berlaku selamanya. Saya berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan dirinya, baik secara verbal maupun electronic. Dan jika teman – teman saya yang membantunya seperti yang saya ceritakan di atas, berusaha membuat saya kembali respek padanya, bisa dipastikan saya akan menempeleng wajah mereka menggunakan celana dalam si Tonton. 10 bulan setelah kejadian tersebut, beberapa kali secara tidak sengaja, saya berpapasan dengan dirinya ketika sedang berada di perpustakaan kampus. Namun sesuai dengan komitmen diri saya, Tonton tetap diabaikan. Bahkan dia mencoba menyapa saya dengan hangat sekaligus akrab, tapi saya hanya tertawa, geleng kepala dan berlalu. Tonton sudah dihapus dari daftar orang yang pernah saya kenal dan saya bukan pribadi yang suka berbasa – basi dengan orang asing.

Kembali ke cerita 2 minggu yang lalu, soal Tonton yang ngebet ingin memasukan saya ke dalam Group WA alumni angkatan kuliah. Sebenarnya saya berbohong, saya masih dan aktif menggunakan WA. Bahkan seminggu sebelumnya, teman akrab saya bernama Chekes Pentes selaku admin dari Group itu, sempat memasukan saya kedalam Group bentukan Tonton tersebut, entah dengan misi terselubung apa. Setelah saya tahu bahwa Group itu diinisiasi oleh Tonton, dengan murka saya memerintahkan Chekes untuk segera menendang keluar saya dari Group itu. Emosi saya merasa dilecehkan apabila harus berada satu panggung dengan si kampret Tonton. Bukan sombong atau angkuh namun jiwa, raga dan hati saya masih trauma dengan perlakuannya dan terlebih saya takut dikerjai lagi. Saya pernah mengatakan kepada beberapa teman asal Ternate di Yogyakarta, bahwa apabila di masa depan saya bertemu lagi dengan Tonton di Ternate, bisa dipastikan dia akan “ditelanjangi”.

Sungguh dari hati yang paling dalam, saya telah lama merindukan seluruh teman – teman angkatan sewaktu kuliah dulu. Sejujurnya, andai saja di dalam Group itu tidak terdapat nama Tonton, saya pasti sangat antusias untuk dapat bergabung dan bersua lagi dengan seluruh teman – teman seperjuangan. Percayalah rindu ini milik kalian saudara – saudaraku. Kelak tanpa Tonton kita dapat bertemu dan berbagi cerita yang panjang. Atas keputusan dan pandangan pribadi saya ini, saya mohon agar saya diampuni. Kepada seluruh teman dan saudaraku alumni angkatan, saya selalu menaruh hormat dan selalu berdoa agar dimanapun kalian berada, kesehatan dan kesuksesan selalu menyertai langkah kalian semua. Amin. Kepada Tonton ketika saya membalas SMS Anda, dengan mengatakan saya tidak menggunakan WA, itu artinya saya sedang menertawakan Anda lalu berkata, “No, Thanks”.**

Jumat, 23 Desember 2016

The Barrier

Sebenarnya sudah sejak lama atau setidaknya 3 tahun yang lalu, saya sangat berkeinginan untuk membuat sebuah blog yang dapat merekam berbagai peristiwa dalam kehidupan saya maupun kehidupan disekitar saya. Namun karena berbagai kesibukan yang sang menyita 90 % waktu saya, maka keinginan yang sangat kuat tersebut harus dikorbankan demi kesibukan – kesibukan yang sangat penting bagi perkembangan pribadi dan karir saya kedepan.

Saya cukup yakin bahwa untuk memulai keinginan saya yang lama terpendam ini, kata terlambat tidak akan mampu membendungnya. Ya tentu, karena soal sekarang atau kemarin hanya dibatasi oleh tembok tipis yang bernama waktu. Untuk menghancurkan tembok tersebut, sudah sejak lama saya mengumpul alat untuk itu, dan saya yakin alat ini dapat berfungsi dengan baik. Terbukti, sekarang saya dapat memulai membuat sebuah blog, yang akan menjadi media bagi curahan pikiran, pandangan, perasaan dan hati saya dalam bentuk coretan (catatan terlalu berat pak!).

Ini yang penting, blog yang berjudul “The Manuscript 27” saya buat untuk kepentingan pribadi saya, yang artinya saya tidak menyuruh siapapun untuk membaca apalagi untuk mengoreksinya, karena sekali lagi ini sangat personal, sepanjang saya tidak mecemari harkat dan martabat makhluk lain, saya pikir ini cukup fair. Bahwa kemudian ada orang lain yang secara tidak sengaja membacanya, saya pun dengan penuh kehangatan akan mengatakan “selamat menikmati”. Kepada orang yang secara tidak sengaja masuk ke halaman saya ini, saya ingin memberikan wejangan sederhana bahwa kemungkinan besar Anda akan menemukan berbagai tulisan yang dirangkai dengan kata – kata non ilmiah, ringan, kasar (terdapat bahasa, idiom, diksi, istilah, serta berbagai macam sumpah serapah yang berasal dari kampung saya, Ternate), tidak dipoles, blak – blakan, apa adanya dan sudah pasti mengedepankan kejujuran tanpa ada niat menyebarkan kebencian. Dan sudah pasti kadar kengalor-ngidulan tulisan – tulisan saya ini mencapai 67.94 %, meski begitu jika Anda beruntung dan ini serius, akan ada pengetahuan baru dari dari tulisan – tulisan saya dalam blog ini, sekali lagi jika Anda beruntung. Boom!

Ini yang paling penting karena menyangkut hati. Ya, hati!. Setegas – tegasnya saya kembali suarakan kepada para pengunjung yang secara tidak sengaja terperosok dan terdampar ke dalam rimba saya, bahwa blog “The Manuscript 27” ini sekedar pendapat pribadi yang berasal dari curahan pikiran, pandangan, perasaan bahkan hati. Tidak ada yang serius apalagi ilmiah, maka jangan diambil hati. Sebagian besar adalah guyonan dan candaan, tidak  bermaksud menyerang pribadi, untuk itu jangan dibawa ke hati. Intinya jangan baper jika tidak ingin sakit hati.

Akhirnya perlu saya jelaskan sebelum lupa, bahwa judul tulisan ini adalah “The Barrier” yang tidak lain tidak bukan merupakan jelmaan dari kata yang penting, yaitu Disclaimer.
Salam cinta yang terdalam dari hati.


Jika mau berilmiah – ilmiah ria, namun khusus terhadap bidang keilmuan yang sama dengan saya, basudara dorang (Anda) dapat berkunjung ke blog lain saya http://syafrinaman.blogspot.co.id/ yang tentu sangat ilmiah karena merupakan ekspresi dari pandangan akademik dan profesi saya. Terima Kasih.