Sabtu, 04 Februari 2017

Warkop DKI Dan Perjuangan Menjaga Tawa (Part II)

Dari berbagai peristiwa heroik yang menjadi kronik Malari di atas (Part I), menunjukan bahwa sikap dan pendirian Dono, Kasino, Indro, Rudi Badil dan Nanu pantas diganjar dengan sebuah tempat terhormat dalam sejarah pergerakan mahasiswa/pelajar Indonesia, sejajar dengan Hariman Siregar dan kawan-kawan. Hariman pulalah yang merekomendasikan Kasino, Nanu dan Rudi untuk mengisi obrolan warung kopi di radio Prambors atas permintaan Temmy Lesanpura dedengkot Prambors saat itu. Program obrolan yang berisikan materi-materi ringan, santai dan lucu ini, semakin menarik dengan bergabungnya Dono dan Indro. Dari sinilah benih lahirnya grup lawak Warkop DKI (Warkop Prambors). Berkat kreasi cerdas merekalah, program ini laris keras serta ditunggu-tunggu pendengar setia stasiun radio yang berkedudukan di Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya (prambors-Menteng) ini. Banyolan, guyonan, lelucon dan lawakan mereka bukannya kosong belaka, namun berisi sikap kritisisme yang dibungkus dengan taktik ala realisme magis.

Lawakan mereka sebenarnya adalah tanda perlawanan terhadap rezim tiran saat itu. Namun perlawanan mereka berbeda dengan perlawanan konvensional lainnya. Perlawanan mereka adalah dengan menjadikan rezim itu bahan tertawaan, ditertawakan karena kekonyolannya membiarkan masyarakat Indonesia tertatih letih mengejar pembangunan. Hal itu dapat dilihat dari sindiran-sindiran bermata dua yang kerap dilontarkan pada setiap penampilan mereka, seperti dalam beberapa judul rekaman kaset (sebelum memasuki industri film) yaitu, Pingin Melek Hukum (Insan Record, 1983), Semua Bisa Diatur (JAL Record, 1984), Pokoknya Betul (JAL Record, 1984). Sejarah digunakannya nama “Warung Kopi” saja sudah menunjukan kekuatan filsafat yang bernilai tinggi. Mengapa harus memakai nama itu? Menurut Pakde Indro, hanya di warung kopi lah demokrasi dapat diwujudkan waktu itu. Hanya di warung kopi lah orang-orang dapat berkeluh kesah tentang kehidupan ekonomi, sosial, politik dan  budaya. Hanya di warung kopi lah orang dapat bebas berpendapat. Dan hanya di warung kopi lah tidak ada orang yang usil, melainkan hanya sekedar mendengar suara rakyat kecil.      

Bahkan kemudian ketika Warkop masuk ke industri perfilman, sikap kritis mereka tidak serta merta dilunturkan oleh batas-batas korporasi (mengikuti selera pasar) yang kaku dan dingin. Bukan Warkop namanya apabila tidak bisa menyulap sindiran satir menjadi gelak tawa. Ini karena pelawak yang tergabung di dalamnya memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan tentu adalah bekas anak-anak kampus (Drs. Wahyu Sardono merupakan Asisten Guru Besar Sosiologi Indonesia, Prof. Selo Soemardjan). Melawak dengan kemampuan otak yang baik dapat memberikan tontonan yang lebih dari sekedar menghibur. Beberapa hal itu membuktikan Warkop dan lawakannya dilandasi dengan idealisme yang tak bisa dianggap enteng. Menurut saya ,berkat sikap dan pendirian etis itulah Warkop bisa berumur panjang sampai saat ini. Menurut Mohammad Sobary seorang Budayawan sekaligus teman se-asrama dan se-kampus Dono dulu di UI, “lewat film-filmya Warkop mampu memberikan sedikit senyum di bibir rakyat Indonesia serta otomatis menjaga tawa mereka di tengah pergolakan krisis ekonomi dan politik plus ketimpangan sosial yang sedang berlangsung”. Paling tidak ini adalah selemah-lemahnya kontribusi bagi bangsa ini.

Perjalanan panjang Warkop DKI, menurut pandangan saya terbagi atas dua fase. Yang pertama adalah sebelum mereka memasuki dunia perfilman, pada fase ini kreatifitas lawakan mereka sangat kental dengan permainan diksi yang mempesona dan sangat cerdas. Berbagai satir politik saat itu dilontarkan tanpa ampun dan lagi-lagi membuat kedua rahang tak henti bergerak cepat akibat urat tawa yang tak dapat dikontrol. Selain tertawa pendengar juga dibuat “berfikir keras” terhadap kandungan yang terdapat dalam lelucon yang dilemparkan para personilnya. Semua kekuatan bertumpu disitu, berbeda halnya ketika fase dimana mereka memasuki dunia perfilman. Sebagian besar atau hampir setengah peran yang meraka lakoni mengandalkan Physical Comedy (Slapstick), Property Comedy (Prop Comedy), dan Character Comedy, ketiga gaya komedi ini tentu bertumpu pada kelucuan fisik dan kebodohan subjek sehingga menjadi objek tertawaan penonton. Soal ini disebabkan kebijakan rumah produksi yang cenderung pragmatis dan mengikuti kesenangan mayoritas penikmat komedi tertentu saat itu, jelas, dengan tujuan meraup rupiah sebanyak-banyaknya. Walaupun begitu, seperti yang sudah saya katakan di atas, dengan kecerdasannya para personil Warkop DKI mampu berdiri seimbang ditengah dua kutub perkomedian yang saling betentangan itu, sembari tetap menghadirkan sikap kritis mereka meski secara “tersirat”. Di sinilah kemudian yang membuat banyak orang terjebak, dengan mengaku penggemar setia Warkop hanya berdasar apa yang mereka tonton dari film-filmnya. Seperti yang dikatakan Sobary, “mereka adalah penggemar dengan cinta buta, dikira Warkop di film sama dengan Warkop di radio atau di panggung-panggung nonfilm”  

Warkop DKI memang tak bisa menyembunyikan sikap dan keberpihakannya, lagi-lagi saya menemukan tingkah dan laku yang membuat saya semakin takjub, yang mana pada saat puncak karir mereka, idealisme itu masih terang bersinar. Kala itu paruh awal 1998 ketika gejolak reformasi mulai menunjukan wajahnya yang ditandai dengan berbagai aksi mahasiswa di penjuru daerah terutama di Jakarta, dengan tuntutan agar Presiden Soeharto segera diturunkan dari jabatannya. Spirit perjuangan mahasiswa itu membuat Dono yang memang dari dulu dikenal sebagai aktivis pemuda dan mahasiswa, merasa gatal untuk turun tangan dan secepatnya bergabung dalam barisan para pejuang, sebagaimana yang dilakoninya pada tahun 1974 dahulu. Bersama sejumlah alumni UI yang masih aktif mengorganisir pergerakan, Dono bertolak menuju Gedung MPR/DPR RI yang pada saat itu sudah diduduki oleh mahasiswa, akibat keberhasilan mereka mengelabui petugas dan merengsek masuk. Karena mendengar ada beberapa mahasiswa yang sudah berhari-hari bertahan di seputaran gedung parlemen itu kekurangan persediaan obat-obatan dan makanan, Dono dengan sigap mengantarkan kebutuhan logistik itu langsung sampai kedalam gedung beratapkan kura-kura itu. Padahal di luar sudah banyak tentara yang melarang setiap orang berkeliaran maupun keluar masuk. Namun bukan Mas Bei (Dono) namanya jika tidak bisa lolos dari larangan itu.

Bagi saya mereka bukan pelawak biasa melainkan pelawak Plus yang sulit ditemukan hingga saat ini. Yang paling mendekati sekarang adalah apa yang marak dikenal sebagai Stand Up Comedy (SUC). Sebuah lawakan dengan peran tunggal yang tidak bertumpu pada kekuatan Slapstick, melainkan mengutamakan Set Up logika sederhana yang bermain pada diksi-diksi keluh kesah terhadap diri sendiri, lingkungan dan orang disekitar kemudian berujung kepada hal-hal lucu yang berasal dari patahan Set Up logika tadi (Punchline), dengan monolog, live dihadapan audience. Ini bagus, sangat menghibur dan saya menyukainya sebab melampui lawakan umumnya yang mendewakan  Slapstick. Tapi menurut saya sampai dengan saat ini SUC masih berperan sebagai sarana hiburan biasa, tidak memiliki sebuah tema besar atau paling tidak digunakan sebagai alat perjuangan sebagaimana yang pernah dicontohkan Warkop DKI dulu. Jauh sebelum SUC muncul dan gegar dimana-mana, Warkop DKI telah lebih dahulu mempraktekannya, lengkap dengan tema besar dan garis perjuangannya, tidak percaya? lihat dan dengarkan rekaman mereka tahun 80 an yang judulnya sempat saya paparkan di atas. Dari sini sudah terdapat perbedaan yang menganga soal gaya Warkop DKI dan gaya SUC masa kini. Mungkin para anak muda yang bergelut dalam dunia SUC ini perlu ditindas lagi seperti zaman orde tirani, agar lawakan mereka sedikit bernyali. Ketika lawakan mereka meciptakan tawa, lawakan Warkop DKI membuat tawa terjaga.**                

Jumat, 03 Februari 2017

Warkop DKI Dan Perjuangan Menjaga Tawa (Part I)

Tulisan ini diawali oleh doa yang ditujukan kepada Para Almarhum :
Drs. Kasino Hadiwibowo
Drs. Wahyu Sardono
Nanu Mulyono
Semoga senantiasa mendapat tempat istimewa di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa

Entah mengapa, hati saya selalu merasa senang, bahagia, antusias dan meninggalkan senyum, ketika melihat Pakde Indro muncul baik di TV, Koran maupun alat peraga promosi film yang bertebaran dimana-mana. Sorry, hal itu bukan karena saya tertarik dengan ke-macho-an dan ketampanan Pakde Indro (sambil membayangkan gaya melambai yang sering di-gimmick-kan Pakde pada beberapa film Warkop DKI ha..ha..ha), melainkan sosok Pakde Indro telah telanjur menjadi simbol hidup Warkop DKI, yang pada masanya sulit tertandingi dan melegenda hingga kini. Bagi fanatic fans Warkop DKI seperti saya, rasa itu tentu bersarang dan terkadang sulit dilawan. Melihat Indro Warkop sekarang, tentu membuat baper bagi orang-orang yang mengetahui betul bagaimana sejarah perjuangan grup lawak ini.

Baper yang saya maksudkan adalah dimana memory otak ini masih menyimpan sejuta kenangan manis bagaimana trio lawak ini kompak mengarungi lautan tawa manusia Indonesia sejak dahulu kala, lengkap dengan suka dan dukanya. Sungguh, secara pribadi boleh dikatakan bahwa Warkop DKI (melalui film-filmnya) turut mengiringi pertumbuhan kehidupan saya sejak kecil dan beranjak remaja. Tak heran ketika mendengar dan melihat berita-berita kekinian menyangkut Warkop DKI, emosi saya tersentuh dan berakhir dengan tawa bahagia.

Memang pada awalnya, saya dan sebagian orang lainnya hanya menjadi penikmat film-film Warkop DKI yang merentang panjang mulai tahun 1979 sampai 1994 (belakangan merambah ke televisi lewat Warkop millennium sekitar tahun 2000-an). Kebersamaan saya dengan berbagai humor segar film Warkop DKI yang merangsang urat tawa, membuat saya katarsis. Dari situ saya memantapkan sikap untuk menjadi fans sejati. Menjadi fans, tentu memerlukan alasan yang kokoh. Dalam perspektif saya, seorang fans harus memiliki pengetahuan yang utuh terhadap apa yang digemarinya, dengan begitu seorang fans akan bisa mendebat sekaligus membeber kekurangan dan kelebihan pujaannya dengan presisi. Saat ini saya bisa mengklaim sebagai fans sejati Warkop DKI.

Tersebutlah pada tahun 1973, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengadakan konsolidasi. Konsolidasi ini bertujuan untuk menggalang seluruh ide, gagasan dan kekuatan guna menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang saat itu, Kakuei Tanaka. Diselanggarakan di perkampungan mahasiswa UI di Cibubur, Kasino (Drs.Kasino Hadiwibowo) tampil sebagai dinamisator acara, berbagai propaganda segar yang dibungkus dengan guyonan renyah, membuat seluruh peserta konsolidasi semakin bersemangat dan terbakar secara emosional positif. Ditemani Rudi Badil (belakangan dikenal sebagai jurnalis senior Kompas)  dan Nanu (Nanu Mulyono) acara ini dibuat semakin menarik, tidak tegang dan tidak menjenuhkan. Kegiatan ini diadakan karena dirangsang oleh sebuah diskusi publik yang sebelumnya diadakan di kampus UI Jakarta. Menjadi pembicara saat itu adalah Subadio Sastrosatomo, Sjafruddin Prawinegara, Ali Sastroamidjojo dan TB Simatupang, dengan tema “persoalan modal asing”. Rangkaian dari kegiatan ini kemudian pecah pada saat kedatangan Tanaka, 15 Januari 1974 (Malari). Dimulai dari demo besar-besaran mahasiswa di Bandara Halim Perdanakusuma, dengan tiga pokok tuntutan yaitu pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional, berujung pada kerusuhan yang membungkam pesona ibukota. Kemungkinan kerusuhan disebabkan ulah provokator ulung kurang kerjaan.

Pagi menjelang siang sebelum aksi membuncah, Kampus UI Salemba, Jakarta, terlihat riuh bergemuruh. Mimbar bebas dilepas, mahasiswa pejuang berkerumun rapi dan mikrofon dikuasai maestro orator yang asyik berkhotbah tentang keadilan dan kemakmuran.  Seorang pria muda tampan dengan sapaan akrab, Dono (Drs Wahyu Sardono) terlihat di tengah-tengah massa aksi. Kepalan tangan mengiringi langkah Dono sembari asyik meneriakan nyanyian-nyayian keadilan. Tak lama kemudian pria asli Jawa ini, tiba-tiba mendekati podium, meraih mikrofon kemudian menghantarkan kedepan bibir Prof. Mahar Mardjono Rektor UI, untuk berorasi di hadapan seluruh peserta aksi. Laku Dono memang patut diacungi jempol, sangat akrobatik. Tak hanya menjadi demonstran aktif, Dono pun sibuk merangkap menjadi wartawan (seperti cita-citanya) dengan memotret seluruh peristiwa aksi, sebagai bahan evaluasi. Lengkap dengan gaya lucunya, Mas Don kemudian berniat memberikan banyolan segar sebagai hiburan bagi seluruh massa aksi, namun tak mendapatakan mikrofon, mengingat banyaknya antrian orator. Dengan hikmat, mahasiswa sosiologi UI ini, mengikuti rangkaian aksi hingga selesai sembari bercanda dengan teman-teman pewartanya yang sedang meliput.

Di tempat lain, tepatnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Mas Kasino asik memandu massa aksi. Sebagai Wakil Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial UI, Mas Kas tentu berkewajiban menjaga moril rekan-rekannya. Tak disangka aksi tersebut kemudian naik pada suhu yang panas. Seluruh demonstran berhadap-hadapan dengan polisi anti huru hara yang dipersenjatai rotan dan alat setrum. Teriakan ledekan dari massa demonstran pun tak bisa ditahan. Beberapa saat kemudian terdengar suara keras dari kerumunan dengan pekikan, “yee… beraninya main setrum”, ternyata itu suara Mas Kas, berselang beberapa menit dari teriakan itu,  barisan massa aksi kocar-kacir karena diserang polisi yang kelelahan sehingga tak dapat menjinakan emosi. Massa aksi dikejar dan dipukuli. Kasino berlari bagai dikejar hantu,  dan naas, setibanya di depan kompleks AU yang tak jauh dari Bandara Halim, Kasino kehabisan napas dan tak dapat mengelak lagi dari sergapan para polisi, ia tersudut, dengan wajah memelas, diiringi suara lirih, ia berucap,“jangan pukul dong pak. Saya kan cuma ikut-ikutan.” Keajaiban pun terjadi, Mas Kas tak jadi ditoyor. Sungguh, seandainya peristiwa ini tampil secara visual, saya pasti terpingkal hingga pingsan.

Bagaimana dengan Pakde Indro?, saat itu Indrodjojo Kusumonegoro masih duduk di bangku SMA kelas 1 dan jika tidak salah bertepatan dengan peristiwa Malari, Indro berada di Filipina mengikuti kegiatan Jambore Internasional Pramuka. Sehari setelah kerusuhan, Mas Indro tiba di Indonesia, banyaknya tentara di bandara membuat ia geer, menyangka bahwa rombongan pramukanya disambut bak pejuang 45, ternyata, ia baru tahu bahwa ternyata barus saja terjadi huru hara tak karuan, “gue pikir, kontingen pramuka disambut. Hebat banget,” kelakar Indro saat itu. Tiba di rumah tak membuat Indro nyaman, rasa penasaran membalutnya. Tanpa menunggu lama, ia dengan segera melangkahkan kaki ke kampus UI Salemba dari rumahnya di Menteng. Melihat banyaknya demonstran yang masih bertahan di kampus, ia pun membayangkan prospek Jakarta pasti semakin mencekam. Tak lama datang seorang kakek tua meminta pertolongan karena takut dengan kerusuhan susulan yang dapat berujung pada pembakaran. Indro pun menolong dengan mengevakuasi kakek itu ketempat yang aman**.                   


Minggu, 25 Desember 2016

Selamat Natal

Sabtu 24 Desember 2016, Pukul 16.00 sore di depan televisi kamar tidur saya, secara tidak sengaja, dengan sebatang rokok ditangan kiri dan bersiap menyeruput segelas kopi, tampil di hadapan saya sebuah tayangan live event Metro TV. Di pandu presenter kawakan nan cantik yang otomatis tidak sulit bagi saya untuk menikmati pesonanya, ya, Prita Laura. Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya masih ingat betul, pernah berpose bersama mbak Prita dalam sebuah acara Ormas Nasdem dimana dia didaulat sebagai pembawa acara. 

Cahaya Indonesia di Vatikan, itulah judulnya. Di awali dengan perjalanan panjang dari Indonesia – Turki – Roma (jika saya tidak salah), tibalah sang Anchor cantik itu di Vatikan. Sekilas lewat layar kaca, Stato della Citta del Vaticano memang mempesona. Kesan yang saya tangkap dari Negara seluas 0.44 KM2 ini adalah sangat teduh dan menenangkan. Kekhusyukan umat Katolik yang sedang beribadah maupun para wistawan yang sekedar ingin menikmati kebesaran negara ini, membuat saya takjub. Nona Prita yang diliputi antusias tinggi segera menyusuri seluruh jalan, berkat jasa kameraman yang handal dan professional, saya pun turut mencium aroma aspal Vatikan dari televisi kecil saya.

Sempat mengikuti ibadah singkat berbahasa Indoensia di dalam sebuah Gereja, menurut nona manis ini adalah keberuntungan yang tak terkira dan perjalanan pun dilanjutkan. Suara merdu perempuan kelahiran tahun 1978 ini semakin membuat saya bangga, tatkala mewawancarai seorang cardinal yang merupakan orang kepercayaan Paus Fransiskus, dimana menurut sang Romo, Paus dan seluruh masyarakat Vatikan sangat mengidolai Pancasila. Sebagai orang Indonesia yang tunduk pada Ideologi negara, mata saya tak berkedip sedikitpun. Pancasila menurut sang Kardinal mewakili Paus, adalah sebuah pandangan hidup yang sangat kental dengan paham kemanusiaan universal dan hal ini sangat menginspirasi Paus beserta warganya. Luar biasa dan saya pun merenung.

Kejutan selanjutnya pun tiba, kali ini datang dari seorang petinggi Vatikan yang ternyata adalah orang asli Indonesia. Saya lagi – lagi menggelengkan kepala sembari tersenyum tanda penghormatan kepada beliau. Dengan senyum hangat khas Indonesia, lelaki paruh baya itu menyambut Prita dan tim, tentu dalam bahasa Indonesia yang fasih. Romo Markus diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Direktur Perdamaian Antar Agama Wilayah Asia Pasifik. Prita sempat diajak masuk ke dalam ruang kerjanya untuk berbincang – bincang. Di sela – sela obrolan mereka, Prita dengan lincah langsung melihat – lihat seisi ruangan. Yang menarik perhatian saya adalah ketika Prita meng-explore sebuah lemari yang terpajang berbagai benda penting (tentu bukan benda sembarangan yang diletakan disitu – menurut Romo) dan mempelototi satu persatu, tak berapa lama sampailah dia pada sebuah piagam penghargaan dengan logo sebuah organisasi yang akrab dengan saya, HMI. Tentu hal ini membuat saya bangga untuk kesekian kalinya, dimana HMI turut diperhitungkan Vatikan sebagai organisasi mahasiswa Islam yang membawa spirit perdamaian bagi seluruh dunia. Yakusa.

Ini yang membuat saya semakin merinding sekaligus sedih, perjalanan terakhir dari kunjungan sekaligus liputan ini adalah menjajal museum Vatikan. Sebuah museum terbaik di bumi, yang bernilai seni kelas kakap. Seluruh benda – benda bersejarah dari seantero dunia hadir disini. Prita pun segera melangkahkan kaki di sebuah ruangan berkaca yang tidak lain adalah stand khusus Indonesia. Di dalam terdapat berbagai karya seni asal Indonesia berupa patung, lukisan, pahatan relief, serta replika cantik candi Borobudur berserta penjelasan historisnya. Di sebuah sudut ruangan tepatnya disamping kanan pintu masuk, terbentang sebuah papan informasi besar yang berisikan penjelasan mengenai Indonesia. Pada kata – kata pembukanya tertulis, Indonesia adalah Negara Pluralis dan Toleran, dimana setiap orang yang berbeda suku dan agama dapat hidup secara rukun dan damai serta menjadi contoh bagi negara – negara di dunia. Seperti yang saya katakan pada saat mengawali paragraf ini, saya merinding dan sedih membaca profil Indonesia di dinding Museum Vatikan itu. Apa sebab? Liat saja kondisi bangsa saat ini apakah masih bisa dikatakan role mode bagi tumbuh kembangnya pluralitas dan toleransi?

Bahkan untuk mengucapkan selamat berhari raya diantara para pemeluk agama saja, butuh debat panjang dengan berbagai kelompok yang mengharamkan ucapan selamat bagi agama lain selain agama mereka. Padahal dasarnya saja masih gelap. Saya termasuk orang yang tidak ada masalah soal memberikan ucapan selamat kepada pemeluk agama lain. Saya menganggap ini tidak ada hubungannya dengan ketahanan iman. Persoalan iman bersentuhan langsung dengan tanggung jawab pribadi yang muatannya adalah tentang sejauh mana pribadi tersebut mengasah dan mempertajam keimanannya melalui usaha – usaha peningkatan mutu spritualnya.

Sebagai seorang Muslim, aqidah dan keimanan saya tidak serta merta tergerus kualitasya hanya dengan saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi seorang Kristiani (begitu juga sebaliknya). Hal itu menurut isi kepala saya merupakan penghormatan terhadap sesama manusia tidak ada yang lain. Juga dalam agama saya diajarkan untuk dapat membina hubungan yang baik antar sesama manusia dan menjaganya jangan sampai ada kerusakan dalam hubungan itu, selain tentu menjaga hubungan dengan Tuhan saya.

Sampai disini saya harus menyampaikan bahwa jangan takut untuk mengucapkan selamat berhari raya bagi pemeluk agama lain, jika Anda masih ragu atau merasa haram apabila melakukan hal tersebut, maka dapat dipastikan Anda adalah pribadi yang paling menjijikan di bumi yang haus akan kedamaian ini. Akhirnya dengan penuh penghormatan dan penghargaan, atas nama kemanusiaan, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Natal 25 Desember 2016 kepada seluruh umat Kristiani dimana pun berada. Tuhan Memberkati.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu dan sampailah di akhir acara live event dari Vatikan yang ditutup oleh presenter idola saya, Prita Laura. Saya sangat menikmati acara ini karena sangat berkelas dan memberikan banyak pengetahuan baru. Dan tentu membuat saya tak henti – hentinya berpikir sesekali merenung dengan apa yang barusan saya dapatkan. Otak saya terlalu liar untuk mencerna dengan cara yang biasa terkait berbagai hal yang berhubungan dengan perdamaian di muka bumi ini. Saking liarnya, dua jari di tangan kiri saya hangus terbakar karena mengira saya tidak pernah menyalakan sebatang rokok.**


Sabtu, 24 Desember 2016

No, Thanks

Beberapa minggu yang lalu dalam perjalanan pulang dari dari Jakarta ke Yogya, saya menerima sebuah SMS dari  nomor yang belum tercatat di handphone saya alias nomor baru. Kebetulan pada saat itu saya menumpangi Kereta Api Ekonomi Jaka Tingkir yang bertolak dari Jakarta Stasiun Pasar Senen Pukul 22.30 malam menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, yang diperkirakan akan tiba pada Pukul 07.30 pagi. Sebelum membuka SMS itu, mata saya masih sibuk, bersemangat bercampur penasaran mengejar kata demi kata yang tersusun rapi dalam satu buku yang saya tenteng menjadi pendamping paling berisik dengan berbagai gugatan terhadap kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam pengumpulan kekuatan ekonomi politik secara tidak sehat di Indonesia, curahan gugatan itu membuat hati saya tak henti – hentinya mengucapkan kata “waw” dan “oh begitu?”.  

Buku dengan judul Korupsi Kepresidenan ; Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga : Istana, Tangsi Dan Partai Politik terbitan LKiS Yogyakarta Tahun 2006, tentu dengan judul ganas seperti itu siapa lagi yang berani menulisnya jika bukan seorang Tokoh aktivis pergerakan kaliber berkelas dunia, dia adalah George Junus Aditjondro yang pada tanggal 10 Desember 2016 kemarin telah berpulang ke penciptanya dengan tenang di Palu, Sulawesi Tengah. Insya Allah seluruh amal kebaikan terutama kerja kerasnya dalam membongkar kejahatan kekuasaan yang zalim lewat penelitian dan tulisan yang ilmiah -saya juga pernah membaca hasil penelitian beliau mengenai rekayasa konflik berdarah antar agama di Maluku, Maluku Utara yang melibatkan elit politik lokal dan nasional- dapat menjadi modal utama Almarhum diterima dengan senyuman di sisi-Nya, Amin. R.I.P Om George.

Sejenak saya berhenti membaca sekaligus menandai halaman terkahir yang saya baca dari buku hebat itu. Mata saya langsung tertuju kepada SMS yang belum saya buka tadi. Seketika saya meraih handphone dan membaca SMS itu. Setelah membaca dengan seksama, ternyata SMS itu datang dari seorang teman lama yang akrab kami (saya dan teman-teman) sapa Tonton. SMS itu intinya adalah meminta kesediaan saya untuk bergabung dalam sebuah Group Whats App (WA), Group ini merupakan sebuah wadah alumni angkatan kuliah saya dulu di S1. Dengan sigap saya membalas SMS Tonton itu, yang intinya mengatakan saya belum bisa bergabung karena sampai dengan saat ini saya belum menggunakan aplikasi WA, mengingat handphone saya sudah tidak dapat lagi menginstall aplikasi lainnya karena keterbatasan storage. Tonton pun dapat memahami hal itu dan mengakhiri percakapan singkat kami lewat SMS dengan saling mendoakan agar sama – sama dapat lebih sukses di hari – hari kedepan. Amin.

Tanpa perintah, ingatan saya langsung terbang jauh kembali ke masa lalu, tentu dengan setengah tersenyum, refleks, bibir saya menyebut sebuah nama, Barton Anwar Hasto Widodo, yang tidak lain adalah nama sebenarnya dari teman saya tadi, Tonton. Masih berkutat dengan nostalgia ingatan, dengan terang saya dapat mengingat awal kebersamaan saya dengan Tonton. Pada awal – awal kuliah S1 dulu, saya dan Tonton sempat sekelas tepatnya dari semester I sampai VI. Dan jika saya tidak keliru, Tonton adalah Ketua kelasnya. Memang si Tonton ini dikenal sebagai seorang mahasiswa rajin serta komunikatif. Tidak hanya di dalam kelas, pertemanan saya dan Tonton berlanjut ke aktivitas luar kelas seperti nongkrong, belajar, berdiskusi, bermain, makan dan bertamasya bersama. Bahkan kami pernah bekerja sama dalam satu organisasi ekstra kampus, HMI. Dimana Tonton menjadi bawahan saya dalam struktur kepengurusan Komisariat di lingkungan fakultas kami,

Meskipun kami seangkatan, Tonton secara usia jauh lebih tua dari saya, karena setelah SMA Tonton tidak langsung makan bangku kuliah, dia memilih bekerja untuk memantapkan sakunya. Meski begitu dalam pertemanan antara saya dan Tonton, tidak mengenal tua dan muda. Kami tetap bergaul secara egaliter seperti teman sebaya pada umumnya, bahkan dalam titik yang paling ekstrem kami bisa saling mengejek satu sama lain bahkan menghina. Tentu semuanya masih dalam pakem guyonan. Di kalangan komunitas kami, Tonton dikenal agak sedikit pelit (berorientasi fulus), entah karena penghematan ataukah memang mau menabung untuk segera naik haji, hanya Tonton dan Tuhan yang tahu.

Saya termasuk orang yang mendorong Tonton agar dapat mengarahkan semua potensinya untuk bisa meningkatkan kemampuan organisatoris, dengan cara memberikan kesempatan kepada Tonton dalam setiap kegiatan organisasi, dimana Tonton selalu masuk dalam panitia inti di berbagai event. Dan memang Tonton bisa menyelesaikan semua tugas tersebut dengan hasil yang cukup maksimal. Tonton tampil perform dan menjadi motor penggerak kegiatan. Ketika itu saya dan teman – teman sangat puas dan memuji hasil kerja Tonton dalam berbagai hajatan kami.

Tonton lulus 6 bulan lebih cepat dari saya, dan setelah itu saya mendengar informasi dari teman bahwa Tonton memilih berkarir sebagai honorer di kantor Kejaksaan Tinggi. Mungkin ini adalah langkah awal dari Tonton untuk bisa mewujudkan cita – citanya menjadi seorang Jaksa. Sejak saat itu intensitas kami dalam pergaulan mulai menurun. Saya saat itu sedang sibuk – sibuknya mengurusi Skripsi yang terbengkalai akibat aktivitas extra kampus saya yang memerlukan konsentrasi lebih. Komunikasi kami benar – benar terputus pasca saya lulus dan pergi merantau mencari sesuap nasi di negeri seberang, Manado.

Kami pun tidak pernah lagi bertemu, seluruh kontak dengan Tonton lenyap. Sewaktu masih aktif menggunakan media sosial, pastinya dengan memanfaatkan waktu luang ketika sedang istrahat setelah seharian bekerja, sesekali saya iseng mengecek FB, tidak terlihat aktivitas FB dari Tonton, mungkin sudah di non aktifkan atau tidak digunakan lagi. Waktu pun berlalu dan kami benar – benar tidak pernah sekalipun bertegur sapa lagi, saya mahfum karena kondisi dan situasi sudah berbeda. Kami telah merelakan diri ditenggelamkan dalam urusan masing – masing dan tentu sangat beresiko apabila mencoba menanggalkan rutinitas itu.

Tahun – tahun berlalu begitu cepat, saya asyik dan menikmati pekerjaan, sehingga melupakan segalanya, termasuk Tonton. Kemudian ketika bertukar kabar, canda dan informasi dari seorang teman, yang juga sengkatan dengan saya dan Tonton, terseliplah pertanyaan dari saya tentang keberadaan si Tonton. Tak disangka berdasarkan paparan teman saya, pada saat itu Tonton telah meninggalkan pekerjaannya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di salah satu Universitas Swasta unggulan Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai teman saya turut mengapresiasi langkah Tonton ini, yang merupakan langkah maju dan terbaik.

Beberapa saat setelah percakapan saya dengan teman itu, saya menerima sebuah panggilan dari handphone saya dari sebuah nomor baru, dan ternyata itu dari Tonton. Kami pun langsung tertawa bersama dan menceritakan perkembangan kehidupan kami masing – masing. Setelah selesai berbasa – basi, Tonton mengutarakan inti dari tujuannya menelpon saya, dia mengalami kesulitan keuangan dan meminta saya untuk membantunya. Tapi saat itu rupanya bukan hari keberuntungan Tonton, karena saya pun mengalami masalah yang sama dengannya, dimana saya harus mempersiapkan masa transisi yang memerlukan banyak pengeluaran tanpa pemasukan, setelah mengajukan surat permohonan resign dari tempat kerja saya. Dan mirip Tonton, saya memutuskan melanjutkan study S2 di kampus yang juga adalah kampus yang sama dengan Tonton. Kami pun mengakhiri percakapan dengan hati yang kurang enak karena apa yang diharapkan Tonton belum bisa saya penuhi.

Sekitar 7 bulan kemudian saya mendaratkan kaki dengan selamat di Kota Yogyakarta yang konon kata beberapa “dukun cinta” adalah Kota yang paling romantis. Hal ini kata si dukun – dukun itu dapat di lihat dan dibuktikan dari setiap sudut Kotanya. Butuh waktu 2 bulan untuk membuktikan dan ternyata, benar. Saya tidak sabar lagi untuk segera memulai proses perkuliahan, karena berkat pertolongan Allah S.W.T, saya lulus dan diterima sebagai Mahasiswa Program Pascasarjana di kampus unggulan Indonesia tersebut.

Di sela – sela persiapan perkuliahan saya, terbesit di pikiran untuk menghubungi Tonton, sekedar ngopi dan bertatap muka karena setelah bertahun - tahun tidak bersua. Setelah dihubungi berulang - ulang ke telepon selulernya, si Boss Tonton in tidak pernah menanggapinya alias tidak pernah mengangkat. Bahkan pada waktu itu setiap 5 menit saya selalu berusaha menghubunginya. Yang mengherankan dia sempat membalas SMS saya mengatakan sedang berada di tempat temannya, tapi ketika di calling tidak ada jawaban hanya terdengar  nada masuk panggilan yang merdu itu.

Kegiatan menelepon Tonton ini saya laksanakan selama seminggu baik pagi, siang ataupun malam dan yang saya dapatkan lagi – lagi hanya tertawaan dari nada masuk panggilan yang merdu itu. Saya sempat tertawa sekaligus takjub, karena selama hidup, saya baru menemukan orang yang sibuknya kelas wahid sehingga tidak sempat menjawab teleponnya baik pagi, siang dan malam. “Gila! masih mahasiswa S2, belum jadi Presiden lho”, kata – kata itu mampir dan bertengger manis di benak saya. Sebagai manusia biasa, perasaan saya langsung memainkan perannya. Tak diduga, perasaan saya ternyata memainkan perannya dengan sangat apik, sehingga sampai pada 3 kesimpulan, Pertama, si Tonton mungkin tidak ingin menemui saya karena tahu saya tidak lagi bekerja sehingga takut dirinya dimintai uang sumbangan, Kedua, mungkin menurut dia tidak ada gunanya menemui saya karena sudah bisa dipastikan saya tidak dapat memberinya uang sumbangan, Ketiga, mungkin dia sudah mencoret saya dari daftar temannya. Padahal saya hanya ingin menyambung tali silaturahmi, tidak lebih. Jujur saja pada saat itu saya sulit berprasangka baik padanya, saya terlalu lama mengenal cara anak ini berfikir dan bertindak, sehingga sulit bagi saya untuk membunuh prasangka buruk. (belakangan saya mendapat informasi dari teman dan telah terkonfirmasi kebenarannya, bahwa si Tonton ini sewaktu berada di Ternate dalam rangka mengurus kepentingan pribadinya, meminta partisipasi aktif dari teman – teman seperjuangan saya dulu serta beberapa Alumni HMI untuk dapat membantu mencarikan uang tiket pesawat agar dirinya dapat kembali ke Yogyakarta melanjutkan aktivitas perkuliahannya. Ketika tiket telah didapatkan dan sewaktu tiba di Yogyakarta, Sang Tonton langsung menghilang tanpa mengabari orang – orang yang telah membantunya itu. Yang paling melukai hati adalah ketika dirinya dimintai tolong oleh seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk membawa serta sebuah laptop bersama barang bawaannya kembali ke Kota Gudeg ini, dirinya menolak memberikan pertolongan dan langsung menaiki pesawat tercintanya. Selain menampakan kecacatan moril Tonton, peristiwa ini juga menunjukan ketololan para teman yang membantu kepulangannya ke Yogyakarta)

Setelah menimbang – nimbang dan berfikir secara mendalam, saya memutuskan tidak lagi menghubunginya dan ini akan berlaku selamanya. Saya berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan dirinya, baik secara verbal maupun electronic. Dan jika teman – teman saya yang membantunya seperti yang saya ceritakan di atas, berusaha membuat saya kembali respek padanya, bisa dipastikan saya akan menempeleng wajah mereka menggunakan celana dalam si Tonton. 10 bulan setelah kejadian tersebut, beberapa kali secara tidak sengaja, saya berpapasan dengan dirinya ketika sedang berada di perpustakaan kampus. Namun sesuai dengan komitmen diri saya, Tonton tetap diabaikan. Bahkan dia mencoba menyapa saya dengan hangat sekaligus akrab, tapi saya hanya tertawa, geleng kepala dan berlalu. Tonton sudah dihapus dari daftar orang yang pernah saya kenal dan saya bukan pribadi yang suka berbasa – basi dengan orang asing.

Kembali ke cerita 2 minggu yang lalu, soal Tonton yang ngebet ingin memasukan saya ke dalam Group WA alumni angkatan kuliah. Sebenarnya saya berbohong, saya masih dan aktif menggunakan WA. Bahkan seminggu sebelumnya, teman akrab saya bernama Chekes Pentes selaku admin dari Group itu, sempat memasukan saya kedalam Group bentukan Tonton tersebut, entah dengan misi terselubung apa. Setelah saya tahu bahwa Group itu diinisiasi oleh Tonton, dengan murka saya memerintahkan Chekes untuk segera menendang keluar saya dari Group itu. Emosi saya merasa dilecehkan apabila harus berada satu panggung dengan si kampret Tonton. Bukan sombong atau angkuh namun jiwa, raga dan hati saya masih trauma dengan perlakuannya dan terlebih saya takut dikerjai lagi. Saya pernah mengatakan kepada beberapa teman asal Ternate di Yogyakarta, bahwa apabila di masa depan saya bertemu lagi dengan Tonton di Ternate, bisa dipastikan dia akan “ditelanjangi”.

Sungguh dari hati yang paling dalam, saya telah lama merindukan seluruh teman – teman angkatan sewaktu kuliah dulu. Sejujurnya, andai saja di dalam Group itu tidak terdapat nama Tonton, saya pasti sangat antusias untuk dapat bergabung dan bersua lagi dengan seluruh teman – teman seperjuangan. Percayalah rindu ini milik kalian saudara – saudaraku. Kelak tanpa Tonton kita dapat bertemu dan berbagi cerita yang panjang. Atas keputusan dan pandangan pribadi saya ini, saya mohon agar saya diampuni. Kepada seluruh teman dan saudaraku alumni angkatan, saya selalu menaruh hormat dan selalu berdoa agar dimanapun kalian berada, kesehatan dan kesuksesan selalu menyertai langkah kalian semua. Amin. Kepada Tonton ketika saya membalas SMS Anda, dengan mengatakan saya tidak menggunakan WA, itu artinya saya sedang menertawakan Anda lalu berkata, “No, Thanks”.**

Jumat, 23 Desember 2016

The Barrier

Sebenarnya sudah sejak lama atau setidaknya 3 tahun yang lalu, saya sangat berkeinginan untuk membuat sebuah blog yang dapat merekam berbagai peristiwa dalam kehidupan saya maupun kehidupan disekitar saya. Namun karena berbagai kesibukan yang sang menyita 90 % waktu saya, maka keinginan yang sangat kuat tersebut harus dikorbankan demi kesibukan – kesibukan yang sangat penting bagi perkembangan pribadi dan karir saya kedepan.

Saya cukup yakin bahwa untuk memulai keinginan saya yang lama terpendam ini, kata terlambat tidak akan mampu membendungnya. Ya tentu, karena soal sekarang atau kemarin hanya dibatasi oleh tembok tipis yang bernama waktu. Untuk menghancurkan tembok tersebut, sudah sejak lama saya mengumpul alat untuk itu, dan saya yakin alat ini dapat berfungsi dengan baik. Terbukti, sekarang saya dapat memulai membuat sebuah blog, yang akan menjadi media bagi curahan pikiran, pandangan, perasaan dan hati saya dalam bentuk coretan (catatan terlalu berat pak!).

Ini yang penting, blog yang berjudul “The Manuscript 27” saya buat untuk kepentingan pribadi saya, yang artinya saya tidak menyuruh siapapun untuk membaca apalagi untuk mengoreksinya, karena sekali lagi ini sangat personal, sepanjang saya tidak mecemari harkat dan martabat makhluk lain, saya pikir ini cukup fair. Bahwa kemudian ada orang lain yang secara tidak sengaja membacanya, saya pun dengan penuh kehangatan akan mengatakan “selamat menikmati”. Kepada orang yang secara tidak sengaja masuk ke halaman saya ini, saya ingin memberikan wejangan sederhana bahwa kemungkinan besar Anda akan menemukan berbagai tulisan yang dirangkai dengan kata – kata non ilmiah, ringan, kasar (terdapat bahasa, idiom, diksi, istilah, serta berbagai macam sumpah serapah yang berasal dari kampung saya, Ternate), tidak dipoles, blak – blakan, apa adanya dan sudah pasti mengedepankan kejujuran tanpa ada niat menyebarkan kebencian. Dan sudah pasti kadar kengalor-ngidulan tulisan – tulisan saya ini mencapai 67.94 %, meski begitu jika Anda beruntung dan ini serius, akan ada pengetahuan baru dari dari tulisan – tulisan saya dalam blog ini, sekali lagi jika Anda beruntung. Boom!

Ini yang paling penting karena menyangkut hati. Ya, hati!. Setegas – tegasnya saya kembali suarakan kepada para pengunjung yang secara tidak sengaja terperosok dan terdampar ke dalam rimba saya, bahwa blog “The Manuscript 27” ini sekedar pendapat pribadi yang berasal dari curahan pikiran, pandangan, perasaan bahkan hati. Tidak ada yang serius apalagi ilmiah, maka jangan diambil hati. Sebagian besar adalah guyonan dan candaan, tidak  bermaksud menyerang pribadi, untuk itu jangan dibawa ke hati. Intinya jangan baper jika tidak ingin sakit hati.

Akhirnya perlu saya jelaskan sebelum lupa, bahwa judul tulisan ini adalah “The Barrier” yang tidak lain tidak bukan merupakan jelmaan dari kata yang penting, yaitu Disclaimer.
Salam cinta yang terdalam dari hati.


Jika mau berilmiah – ilmiah ria, namun khusus terhadap bidang keilmuan yang sama dengan saya, basudara dorang (Anda) dapat berkunjung ke blog lain saya http://syafrinaman.blogspot.co.id/ yang tentu sangat ilmiah karena merupakan ekspresi dari pandangan akademik dan profesi saya. Terima Kasih.