Tulisan ini diawali oleh doa yang ditujukan kepada
Para Almarhum :
Drs. Kasino Hadiwibowo
Drs. Wahyu Sardono
Nanu Mulyono
Semoga senantiasa mendapat tempat istimewa di sisi Tuhan Yang
Maha Kuasa
Entah mengapa, hati saya selalu merasa senang,
bahagia, antusias dan meninggalkan senyum, ketika melihat Pakde Indro muncul
baik di TV, Koran maupun alat peraga promosi film yang bertebaran dimana-mana. Sorry, hal itu bukan karena saya
tertarik dengan ke-macho-an dan ketampanan Pakde Indro (sambil membayangkan
gaya melambai yang sering di-gimmick-kan
Pakde pada beberapa film Warkop DKI ha..ha..ha), melainkan sosok Pakde Indro
telah telanjur menjadi simbol hidup Warkop DKI, yang pada masanya sulit
tertandingi dan melegenda hingga kini. Bagi fanatic fans Warkop DKI seperti saya, rasa itu tentu bersarang dan
terkadang sulit dilawan. Melihat Indro Warkop sekarang, tentu membuat baper bagi orang-orang yang mengetahui
betul bagaimana sejarah perjuangan grup lawak ini.
Baper
yang
saya maksudkan adalah dimana memory otak ini masih menyimpan sejuta kenangan
manis bagaimana trio lawak ini kompak mengarungi lautan tawa manusia Indonesia
sejak dahulu kala, lengkap dengan suka dan dukanya. Sungguh, secara pribadi
boleh dikatakan bahwa Warkop DKI (melalui film-filmnya) turut mengiringi
pertumbuhan kehidupan saya sejak kecil dan beranjak remaja. Tak heran ketika
mendengar dan melihat berita-berita kekinian menyangkut Warkop DKI, emosi saya
tersentuh dan berakhir dengan tawa bahagia.
Memang pada awalnya, saya dan sebagian orang lainnya
hanya menjadi penikmat film-film Warkop DKI yang merentang panjang mulai tahun
1979 sampai 1994 (belakangan merambah ke televisi lewat Warkop millennium
sekitar tahun 2000-an). Kebersamaan saya dengan berbagai humor segar film
Warkop DKI yang merangsang urat tawa, membuat saya katarsis. Dari situ saya memantapkan sikap untuk menjadi fans sejati. Menjadi fans, tentu memerlukan alasan yang
kokoh. Dalam perspektif saya, seorang fans
harus memiliki pengetahuan yang utuh terhadap apa yang digemarinya, dengan
begitu seorang fans akan bisa
mendebat sekaligus membeber kekurangan dan kelebihan pujaannya dengan presisi. Saat
ini saya bisa mengklaim sebagai fans sejati
Warkop DKI.
Tersebutlah pada tahun 1973, sejumlah mahasiswa
Universitas Indonesia (UI) mengadakan konsolidasi. Konsolidasi ini bertujuan untuk
menggalang seluruh ide, gagasan dan kekuatan guna menentang kedatangan Perdana
Menteri Jepang saat itu, Kakuei Tanaka. Diselanggarakan di perkampungan
mahasiswa UI di Cibubur, Kasino (Drs.Kasino Hadiwibowo) tampil sebagai
dinamisator acara, berbagai propaganda segar yang dibungkus dengan guyonan
renyah, membuat seluruh peserta konsolidasi semakin bersemangat dan terbakar secara
emosional positif. Ditemani Rudi Badil (belakangan dikenal sebagai jurnalis
senior Kompas) dan Nanu (Nanu Mulyono)
acara ini dibuat semakin menarik, tidak tegang dan tidak menjenuhkan. Kegiatan ini
diadakan karena dirangsang oleh sebuah diskusi publik yang sebelumnya diadakan
di kampus UI Jakarta. Menjadi pembicara saat itu adalah Subadio Sastrosatomo,
Sjafruddin Prawinegara, Ali Sastroamidjojo dan TB Simatupang, dengan tema “persoalan
modal asing”. Rangkaian dari kegiatan ini kemudian pecah pada saat kedatangan
Tanaka, 15 Januari 1974 (Malari). Dimulai dari demo besar-besaran mahasiswa di
Bandara Halim Perdanakusuma, dengan tiga pokok tuntutan yaitu pemberantasan
korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang
didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional, berujung
pada kerusuhan yang membungkam pesona ibukota. Kemungkinan kerusuhan disebabkan
ulah provokator ulung kurang kerjaan.
Pagi menjelang siang sebelum aksi membuncah, Kampus
UI Salemba, Jakarta, terlihat riuh bergemuruh. Mimbar bebas dilepas, mahasiswa
pejuang berkerumun rapi dan mikrofon dikuasai maestro orator yang asyik
berkhotbah tentang keadilan dan kemakmuran. Seorang pria muda tampan dengan sapaan akrab, Dono
(Drs Wahyu Sardono) terlihat di tengah-tengah massa aksi. Kepalan tangan
mengiringi langkah Dono sembari asyik meneriakan nyanyian-nyayian keadilan. Tak
lama kemudian pria asli Jawa ini, tiba-tiba mendekati podium, meraih mikrofon
kemudian menghantarkan kedepan bibir Prof. Mahar Mardjono Rektor UI, untuk
berorasi di hadapan seluruh peserta aksi. Laku Dono memang patut diacungi
jempol, sangat akrobatik. Tak hanya menjadi demonstran aktif, Dono pun sibuk
merangkap menjadi wartawan (seperti cita-citanya) dengan memotret seluruh
peristiwa aksi, sebagai bahan evaluasi. Lengkap dengan gaya lucunya, Mas Don
kemudian berniat memberikan banyolan segar sebagai hiburan bagi seluruh massa
aksi, namun tak mendapatakan mikrofon, mengingat banyaknya antrian orator. Dengan
hikmat, mahasiswa sosiologi UI ini, mengikuti rangkaian aksi hingga selesai
sembari bercanda dengan teman-teman pewartanya yang sedang meliput.
Di tempat lain, tepatnya di Bandara Halim
Perdanakusuma, Mas Kasino asik memandu massa aksi. Sebagai Wakil Ketua Senat
Fakultas Ilmu Sosial UI, Mas Kas tentu berkewajiban menjaga moril
rekan-rekannya. Tak disangka aksi tersebut kemudian naik pada suhu yang panas. Seluruh
demonstran berhadap-hadapan dengan polisi anti huru hara yang dipersenjatai
rotan dan alat setrum. Teriakan ledekan dari massa demonstran pun tak bisa
ditahan. Beberapa saat kemudian terdengar suara keras dari kerumunan dengan
pekikan, “yee… beraninya main setrum”,
ternyata itu suara Mas Kas, berselang beberapa menit dari teriakan itu, barisan massa aksi kocar-kacir karena diserang
polisi yang kelelahan sehingga tak dapat menjinakan emosi. Massa aksi
dikejar dan dipukuli. Kasino berlari bagai dikejar hantu, dan naas, setibanya di depan kompleks AU yang
tak jauh dari Bandara Halim, Kasino kehabisan napas dan tak dapat mengelak lagi
dari sergapan para polisi, ia tersudut, dengan wajah memelas, diiringi suara lirih,
ia berucap,“jangan pukul dong pak. Saya
kan cuma ikut-ikutan.” Keajaiban pun terjadi, Mas Kas tak jadi ditoyor. Sungguh,
seandainya peristiwa ini tampil secara visual, saya pasti terpingkal hingga
pingsan.
Bagaimana dengan Pakde Indro?, saat itu Indrodjojo
Kusumonegoro masih duduk di bangku SMA kelas 1 dan jika tidak salah bertepatan
dengan peristiwa Malari, Indro berada di Filipina mengikuti kegiatan Jambore
Internasional Pramuka. Sehari setelah kerusuhan, Mas Indro tiba di Indonesia,
banyaknya tentara di bandara membuat ia geer,
menyangka bahwa rombongan pramukanya disambut bak pejuang 45, ternyata, ia baru
tahu bahwa ternyata barus saja terjadi huru hara tak karuan, “gue pikir, kontingen pramuka disambut.
Hebat banget,” kelakar Indro saat itu. Tiba di rumah tak membuat Indro
nyaman, rasa penasaran membalutnya. Tanpa menunggu lama, ia dengan segera
melangkahkan kaki ke kampus UI Salemba dari rumahnya di Menteng. Melihat banyaknya
demonstran yang masih bertahan di kampus, ia pun membayangkan prospek Jakarta
pasti semakin mencekam. Tak lama datang seorang kakek tua meminta pertolongan
karena takut dengan kerusuhan susulan yang dapat berujung pada pembakaran. Indro
pun menolong dengan mengevakuasi kakek itu ketempat yang aman**.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar