Jumat, 03 Februari 2017

Warkop DKI Dan Perjuangan Menjaga Tawa (Part I)

Tulisan ini diawali oleh doa yang ditujukan kepada Para Almarhum :
Drs. Kasino Hadiwibowo
Drs. Wahyu Sardono
Nanu Mulyono
Semoga senantiasa mendapat tempat istimewa di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa

Entah mengapa, hati saya selalu merasa senang, bahagia, antusias dan meninggalkan senyum, ketika melihat Pakde Indro muncul baik di TV, Koran maupun alat peraga promosi film yang bertebaran dimana-mana. Sorry, hal itu bukan karena saya tertarik dengan ke-macho-an dan ketampanan Pakde Indro (sambil membayangkan gaya melambai yang sering di-gimmick-kan Pakde pada beberapa film Warkop DKI ha..ha..ha), melainkan sosok Pakde Indro telah telanjur menjadi simbol hidup Warkop DKI, yang pada masanya sulit tertandingi dan melegenda hingga kini. Bagi fanatic fans Warkop DKI seperti saya, rasa itu tentu bersarang dan terkadang sulit dilawan. Melihat Indro Warkop sekarang, tentu membuat baper bagi orang-orang yang mengetahui betul bagaimana sejarah perjuangan grup lawak ini.

Baper yang saya maksudkan adalah dimana memory otak ini masih menyimpan sejuta kenangan manis bagaimana trio lawak ini kompak mengarungi lautan tawa manusia Indonesia sejak dahulu kala, lengkap dengan suka dan dukanya. Sungguh, secara pribadi boleh dikatakan bahwa Warkop DKI (melalui film-filmnya) turut mengiringi pertumbuhan kehidupan saya sejak kecil dan beranjak remaja. Tak heran ketika mendengar dan melihat berita-berita kekinian menyangkut Warkop DKI, emosi saya tersentuh dan berakhir dengan tawa bahagia.

Memang pada awalnya, saya dan sebagian orang lainnya hanya menjadi penikmat film-film Warkop DKI yang merentang panjang mulai tahun 1979 sampai 1994 (belakangan merambah ke televisi lewat Warkop millennium sekitar tahun 2000-an). Kebersamaan saya dengan berbagai humor segar film Warkop DKI yang merangsang urat tawa, membuat saya katarsis. Dari situ saya memantapkan sikap untuk menjadi fans sejati. Menjadi fans, tentu memerlukan alasan yang kokoh. Dalam perspektif saya, seorang fans harus memiliki pengetahuan yang utuh terhadap apa yang digemarinya, dengan begitu seorang fans akan bisa mendebat sekaligus membeber kekurangan dan kelebihan pujaannya dengan presisi. Saat ini saya bisa mengklaim sebagai fans sejati Warkop DKI.

Tersebutlah pada tahun 1973, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mengadakan konsolidasi. Konsolidasi ini bertujuan untuk menggalang seluruh ide, gagasan dan kekuatan guna menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang saat itu, Kakuei Tanaka. Diselanggarakan di perkampungan mahasiswa UI di Cibubur, Kasino (Drs.Kasino Hadiwibowo) tampil sebagai dinamisator acara, berbagai propaganda segar yang dibungkus dengan guyonan renyah, membuat seluruh peserta konsolidasi semakin bersemangat dan terbakar secara emosional positif. Ditemani Rudi Badil (belakangan dikenal sebagai jurnalis senior Kompas)  dan Nanu (Nanu Mulyono) acara ini dibuat semakin menarik, tidak tegang dan tidak menjenuhkan. Kegiatan ini diadakan karena dirangsang oleh sebuah diskusi publik yang sebelumnya diadakan di kampus UI Jakarta. Menjadi pembicara saat itu adalah Subadio Sastrosatomo, Sjafruddin Prawinegara, Ali Sastroamidjojo dan TB Simatupang, dengan tema “persoalan modal asing”. Rangkaian dari kegiatan ini kemudian pecah pada saat kedatangan Tanaka, 15 Januari 1974 (Malari). Dimulai dari demo besar-besaran mahasiswa di Bandara Halim Perdanakusuma, dengan tiga pokok tuntutan yaitu pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional, berujung pada kerusuhan yang membungkam pesona ibukota. Kemungkinan kerusuhan disebabkan ulah provokator ulung kurang kerjaan.

Pagi menjelang siang sebelum aksi membuncah, Kampus UI Salemba, Jakarta, terlihat riuh bergemuruh. Mimbar bebas dilepas, mahasiswa pejuang berkerumun rapi dan mikrofon dikuasai maestro orator yang asyik berkhotbah tentang keadilan dan kemakmuran.  Seorang pria muda tampan dengan sapaan akrab, Dono (Drs Wahyu Sardono) terlihat di tengah-tengah massa aksi. Kepalan tangan mengiringi langkah Dono sembari asyik meneriakan nyanyian-nyayian keadilan. Tak lama kemudian pria asli Jawa ini, tiba-tiba mendekati podium, meraih mikrofon kemudian menghantarkan kedepan bibir Prof. Mahar Mardjono Rektor UI, untuk berorasi di hadapan seluruh peserta aksi. Laku Dono memang patut diacungi jempol, sangat akrobatik. Tak hanya menjadi demonstran aktif, Dono pun sibuk merangkap menjadi wartawan (seperti cita-citanya) dengan memotret seluruh peristiwa aksi, sebagai bahan evaluasi. Lengkap dengan gaya lucunya, Mas Don kemudian berniat memberikan banyolan segar sebagai hiburan bagi seluruh massa aksi, namun tak mendapatakan mikrofon, mengingat banyaknya antrian orator. Dengan hikmat, mahasiswa sosiologi UI ini, mengikuti rangkaian aksi hingga selesai sembari bercanda dengan teman-teman pewartanya yang sedang meliput.

Di tempat lain, tepatnya di Bandara Halim Perdanakusuma, Mas Kasino asik memandu massa aksi. Sebagai Wakil Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial UI, Mas Kas tentu berkewajiban menjaga moril rekan-rekannya. Tak disangka aksi tersebut kemudian naik pada suhu yang panas. Seluruh demonstran berhadap-hadapan dengan polisi anti huru hara yang dipersenjatai rotan dan alat setrum. Teriakan ledekan dari massa demonstran pun tak bisa ditahan. Beberapa saat kemudian terdengar suara keras dari kerumunan dengan pekikan, “yee… beraninya main setrum”, ternyata itu suara Mas Kas, berselang beberapa menit dari teriakan itu,  barisan massa aksi kocar-kacir karena diserang polisi yang kelelahan sehingga tak dapat menjinakan emosi. Massa aksi dikejar dan dipukuli. Kasino berlari bagai dikejar hantu,  dan naas, setibanya di depan kompleks AU yang tak jauh dari Bandara Halim, Kasino kehabisan napas dan tak dapat mengelak lagi dari sergapan para polisi, ia tersudut, dengan wajah memelas, diiringi suara lirih, ia berucap,“jangan pukul dong pak. Saya kan cuma ikut-ikutan.” Keajaiban pun terjadi, Mas Kas tak jadi ditoyor. Sungguh, seandainya peristiwa ini tampil secara visual, saya pasti terpingkal hingga pingsan.

Bagaimana dengan Pakde Indro?, saat itu Indrodjojo Kusumonegoro masih duduk di bangku SMA kelas 1 dan jika tidak salah bertepatan dengan peristiwa Malari, Indro berada di Filipina mengikuti kegiatan Jambore Internasional Pramuka. Sehari setelah kerusuhan, Mas Indro tiba di Indonesia, banyaknya tentara di bandara membuat ia geer, menyangka bahwa rombongan pramukanya disambut bak pejuang 45, ternyata, ia baru tahu bahwa ternyata barus saja terjadi huru hara tak karuan, “gue pikir, kontingen pramuka disambut. Hebat banget,” kelakar Indro saat itu. Tiba di rumah tak membuat Indro nyaman, rasa penasaran membalutnya. Tanpa menunggu lama, ia dengan segera melangkahkan kaki ke kampus UI Salemba dari rumahnya di Menteng. Melihat banyaknya demonstran yang masih bertahan di kampus, ia pun membayangkan prospek Jakarta pasti semakin mencekam. Tak lama datang seorang kakek tua meminta pertolongan karena takut dengan kerusuhan susulan yang dapat berujung pada pembakaran. Indro pun menolong dengan mengevakuasi kakek itu ketempat yang aman**.                   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar