Sabtu, 04 Februari 2017

Warkop DKI Dan Perjuangan Menjaga Tawa (Part II)

Dari berbagai peristiwa heroik yang menjadi kronik Malari di atas (Part I), menunjukan bahwa sikap dan pendirian Dono, Kasino, Indro, Rudi Badil dan Nanu pantas diganjar dengan sebuah tempat terhormat dalam sejarah pergerakan mahasiswa/pelajar Indonesia, sejajar dengan Hariman Siregar dan kawan-kawan. Hariman pulalah yang merekomendasikan Kasino, Nanu dan Rudi untuk mengisi obrolan warung kopi di radio Prambors atas permintaan Temmy Lesanpura dedengkot Prambors saat itu. Program obrolan yang berisikan materi-materi ringan, santai dan lucu ini, semakin menarik dengan bergabungnya Dono dan Indro. Dari sinilah benih lahirnya grup lawak Warkop DKI (Warkop Prambors). Berkat kreasi cerdas merekalah, program ini laris keras serta ditunggu-tunggu pendengar setia stasiun radio yang berkedudukan di Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya (prambors-Menteng) ini. Banyolan, guyonan, lelucon dan lawakan mereka bukannya kosong belaka, namun berisi sikap kritisisme yang dibungkus dengan taktik ala realisme magis.

Lawakan mereka sebenarnya adalah tanda perlawanan terhadap rezim tiran saat itu. Namun perlawanan mereka berbeda dengan perlawanan konvensional lainnya. Perlawanan mereka adalah dengan menjadikan rezim itu bahan tertawaan, ditertawakan karena kekonyolannya membiarkan masyarakat Indonesia tertatih letih mengejar pembangunan. Hal itu dapat dilihat dari sindiran-sindiran bermata dua yang kerap dilontarkan pada setiap penampilan mereka, seperti dalam beberapa judul rekaman kaset (sebelum memasuki industri film) yaitu, Pingin Melek Hukum (Insan Record, 1983), Semua Bisa Diatur (JAL Record, 1984), Pokoknya Betul (JAL Record, 1984). Sejarah digunakannya nama “Warung Kopi” saja sudah menunjukan kekuatan filsafat yang bernilai tinggi. Mengapa harus memakai nama itu? Menurut Pakde Indro, hanya di warung kopi lah demokrasi dapat diwujudkan waktu itu. Hanya di warung kopi lah orang-orang dapat berkeluh kesah tentang kehidupan ekonomi, sosial, politik dan  budaya. Hanya di warung kopi lah orang dapat bebas berpendapat. Dan hanya di warung kopi lah tidak ada orang yang usil, melainkan hanya sekedar mendengar suara rakyat kecil.      

Bahkan kemudian ketika Warkop masuk ke industri perfilman, sikap kritis mereka tidak serta merta dilunturkan oleh batas-batas korporasi (mengikuti selera pasar) yang kaku dan dingin. Bukan Warkop namanya apabila tidak bisa menyulap sindiran satir menjadi gelak tawa. Ini karena pelawak yang tergabung di dalamnya memiliki intelektualitas di atas rata-rata dan tentu adalah bekas anak-anak kampus (Drs. Wahyu Sardono merupakan Asisten Guru Besar Sosiologi Indonesia, Prof. Selo Soemardjan). Melawak dengan kemampuan otak yang baik dapat memberikan tontonan yang lebih dari sekedar menghibur. Beberapa hal itu membuktikan Warkop dan lawakannya dilandasi dengan idealisme yang tak bisa dianggap enteng. Menurut saya ,berkat sikap dan pendirian etis itulah Warkop bisa berumur panjang sampai saat ini. Menurut Mohammad Sobary seorang Budayawan sekaligus teman se-asrama dan se-kampus Dono dulu di UI, “lewat film-filmya Warkop mampu memberikan sedikit senyum di bibir rakyat Indonesia serta otomatis menjaga tawa mereka di tengah pergolakan krisis ekonomi dan politik plus ketimpangan sosial yang sedang berlangsung”. Paling tidak ini adalah selemah-lemahnya kontribusi bagi bangsa ini.

Perjalanan panjang Warkop DKI, menurut pandangan saya terbagi atas dua fase. Yang pertama adalah sebelum mereka memasuki dunia perfilman, pada fase ini kreatifitas lawakan mereka sangat kental dengan permainan diksi yang mempesona dan sangat cerdas. Berbagai satir politik saat itu dilontarkan tanpa ampun dan lagi-lagi membuat kedua rahang tak henti bergerak cepat akibat urat tawa yang tak dapat dikontrol. Selain tertawa pendengar juga dibuat “berfikir keras” terhadap kandungan yang terdapat dalam lelucon yang dilemparkan para personilnya. Semua kekuatan bertumpu disitu, berbeda halnya ketika fase dimana mereka memasuki dunia perfilman. Sebagian besar atau hampir setengah peran yang meraka lakoni mengandalkan Physical Comedy (Slapstick), Property Comedy (Prop Comedy), dan Character Comedy, ketiga gaya komedi ini tentu bertumpu pada kelucuan fisik dan kebodohan subjek sehingga menjadi objek tertawaan penonton. Soal ini disebabkan kebijakan rumah produksi yang cenderung pragmatis dan mengikuti kesenangan mayoritas penikmat komedi tertentu saat itu, jelas, dengan tujuan meraup rupiah sebanyak-banyaknya. Walaupun begitu, seperti yang sudah saya katakan di atas, dengan kecerdasannya para personil Warkop DKI mampu berdiri seimbang ditengah dua kutub perkomedian yang saling betentangan itu, sembari tetap menghadirkan sikap kritis mereka meski secara “tersirat”. Di sinilah kemudian yang membuat banyak orang terjebak, dengan mengaku penggemar setia Warkop hanya berdasar apa yang mereka tonton dari film-filmnya. Seperti yang dikatakan Sobary, “mereka adalah penggemar dengan cinta buta, dikira Warkop di film sama dengan Warkop di radio atau di panggung-panggung nonfilm”  

Warkop DKI memang tak bisa menyembunyikan sikap dan keberpihakannya, lagi-lagi saya menemukan tingkah dan laku yang membuat saya semakin takjub, yang mana pada saat puncak karir mereka, idealisme itu masih terang bersinar. Kala itu paruh awal 1998 ketika gejolak reformasi mulai menunjukan wajahnya yang ditandai dengan berbagai aksi mahasiswa di penjuru daerah terutama di Jakarta, dengan tuntutan agar Presiden Soeharto segera diturunkan dari jabatannya. Spirit perjuangan mahasiswa itu membuat Dono yang memang dari dulu dikenal sebagai aktivis pemuda dan mahasiswa, merasa gatal untuk turun tangan dan secepatnya bergabung dalam barisan para pejuang, sebagaimana yang dilakoninya pada tahun 1974 dahulu. Bersama sejumlah alumni UI yang masih aktif mengorganisir pergerakan, Dono bertolak menuju Gedung MPR/DPR RI yang pada saat itu sudah diduduki oleh mahasiswa, akibat keberhasilan mereka mengelabui petugas dan merengsek masuk. Karena mendengar ada beberapa mahasiswa yang sudah berhari-hari bertahan di seputaran gedung parlemen itu kekurangan persediaan obat-obatan dan makanan, Dono dengan sigap mengantarkan kebutuhan logistik itu langsung sampai kedalam gedung beratapkan kura-kura itu. Padahal di luar sudah banyak tentara yang melarang setiap orang berkeliaran maupun keluar masuk. Namun bukan Mas Bei (Dono) namanya jika tidak bisa lolos dari larangan itu.

Bagi saya mereka bukan pelawak biasa melainkan pelawak Plus yang sulit ditemukan hingga saat ini. Yang paling mendekati sekarang adalah apa yang marak dikenal sebagai Stand Up Comedy (SUC). Sebuah lawakan dengan peran tunggal yang tidak bertumpu pada kekuatan Slapstick, melainkan mengutamakan Set Up logika sederhana yang bermain pada diksi-diksi keluh kesah terhadap diri sendiri, lingkungan dan orang disekitar kemudian berujung kepada hal-hal lucu yang berasal dari patahan Set Up logika tadi (Punchline), dengan monolog, live dihadapan audience. Ini bagus, sangat menghibur dan saya menyukainya sebab melampui lawakan umumnya yang mendewakan  Slapstick. Tapi menurut saya sampai dengan saat ini SUC masih berperan sebagai sarana hiburan biasa, tidak memiliki sebuah tema besar atau paling tidak digunakan sebagai alat perjuangan sebagaimana yang pernah dicontohkan Warkop DKI dulu. Jauh sebelum SUC muncul dan gegar dimana-mana, Warkop DKI telah lebih dahulu mempraktekannya, lengkap dengan tema besar dan garis perjuangannya, tidak percaya? lihat dan dengarkan rekaman mereka tahun 80 an yang judulnya sempat saya paparkan di atas. Dari sini sudah terdapat perbedaan yang menganga soal gaya Warkop DKI dan gaya SUC masa kini. Mungkin para anak muda yang bergelut dalam dunia SUC ini perlu ditindas lagi seperti zaman orde tirani, agar lawakan mereka sedikit bernyali. Ketika lawakan mereka meciptakan tawa, lawakan Warkop DKI membuat tawa terjaga.**                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar