Dari berbagai peristiwa heroik yang menjadi kronik Malari
di atas (Part I), menunjukan bahwa sikap dan pendirian Dono, Kasino, Indro,
Rudi Badil dan Nanu pantas diganjar dengan sebuah tempat terhormat dalam
sejarah pergerakan mahasiswa/pelajar Indonesia, sejajar dengan Hariman Siregar
dan kawan-kawan. Hariman pulalah yang merekomendasikan Kasino, Nanu dan Rudi
untuk mengisi obrolan warung kopi di radio Prambors atas permintaan Temmy
Lesanpura dedengkot Prambors saat itu. Program obrolan yang berisikan
materi-materi ringan, santai dan lucu ini, semakin menarik dengan bergabungnya
Dono dan Indro. Dari sinilah benih lahirnya grup lawak Warkop DKI (Warkop
Prambors). Berkat kreasi cerdas merekalah, program ini laris keras serta ditunggu-tunggu
pendengar setia stasiun radio yang berkedudukan di Prambanan, Mendut, Borobudur
dan sekitarnya (prambors-Menteng) ini. Banyolan, guyonan, lelucon dan lawakan
mereka bukannya kosong belaka, namun berisi sikap kritisisme yang dibungkus
dengan taktik ala realisme magis.
Lawakan mereka sebenarnya adalah tanda perlawanan
terhadap rezim tiran saat itu. Namun perlawanan mereka berbeda dengan
perlawanan konvensional lainnya. Perlawanan mereka adalah dengan menjadikan
rezim itu bahan tertawaan, ditertawakan karena kekonyolannya membiarkan
masyarakat Indonesia tertatih letih mengejar pembangunan. Hal itu dapat dilihat
dari sindiran-sindiran bermata dua yang kerap dilontarkan pada setiap
penampilan mereka, seperti dalam beberapa judul rekaman kaset (sebelum memasuki
industri film) yaitu, Pingin Melek Hukum
(Insan Record, 1983), Semua Bisa Diatur (JAL Record, 1984), Pokoknya Betul (JAL
Record, 1984). Sejarah digunakannya nama “Warung Kopi” saja sudah
menunjukan kekuatan filsafat yang bernilai tinggi. Mengapa harus memakai nama
itu? Menurut Pakde Indro, hanya di warung kopi lah demokrasi dapat diwujudkan
waktu itu. Hanya di warung kopi lah orang-orang dapat berkeluh kesah tentang
kehidupan ekonomi, sosial, politik dan
budaya. Hanya di warung kopi lah orang dapat bebas berpendapat. Dan
hanya di warung kopi lah tidak ada orang yang usil, melainkan hanya sekedar
mendengar suara rakyat kecil.
Bahkan kemudian ketika Warkop masuk ke industri
perfilman, sikap kritis mereka tidak serta merta dilunturkan oleh batas-batas
korporasi (mengikuti selera pasar) yang kaku dan dingin. Bukan Warkop namanya
apabila tidak bisa menyulap sindiran satir menjadi gelak tawa. Ini karena
pelawak yang tergabung di dalamnya memiliki intelektualitas di atas rata-rata
dan tentu adalah bekas anak-anak kampus (Drs. Wahyu Sardono merupakan Asisten
Guru Besar Sosiologi Indonesia, Prof. Selo Soemardjan). Melawak dengan
kemampuan otak yang baik dapat memberikan tontonan yang lebih dari sekedar
menghibur. Beberapa hal itu membuktikan Warkop dan lawakannya dilandasi dengan
idealisme yang tak bisa dianggap enteng. Menurut saya ,berkat sikap dan
pendirian etis itulah Warkop bisa berumur panjang sampai saat ini. Menurut
Mohammad Sobary seorang Budayawan sekaligus teman se-asrama dan se-kampus Dono
dulu di UI, “lewat film-filmya Warkop
mampu memberikan sedikit senyum di bibir rakyat Indonesia serta otomatis
menjaga tawa mereka di tengah pergolakan krisis ekonomi dan politik plus
ketimpangan sosial yang sedang berlangsung”. Paling tidak ini adalah
selemah-lemahnya kontribusi bagi bangsa ini.
Perjalanan panjang Warkop DKI, menurut pandangan
saya terbagi atas dua fase. Yang pertama adalah sebelum mereka memasuki dunia
perfilman, pada fase ini kreatifitas lawakan mereka sangat kental dengan
permainan diksi yang mempesona dan sangat cerdas. Berbagai satir politik saat
itu dilontarkan tanpa ampun dan lagi-lagi membuat kedua rahang tak henti
bergerak cepat akibat urat tawa yang tak dapat dikontrol. Selain tertawa
pendengar juga dibuat “berfikir keras” terhadap kandungan yang terdapat dalam lelucon yang dilemparkan para
personilnya. Semua kekuatan bertumpu disitu, berbeda halnya ketika fase dimana
mereka memasuki dunia perfilman. Sebagian besar atau hampir setengah peran yang
meraka lakoni mengandalkan Physical
Comedy (Slapstick), Property Comedy (Prop Comedy), dan Character Comedy, ketiga gaya komedi ini tentu bertumpu pada
kelucuan fisik dan kebodohan subjek sehingga menjadi objek tertawaan penonton. Soal
ini disebabkan kebijakan rumah produksi yang cenderung pragmatis dan mengikuti
kesenangan mayoritas penikmat komedi tertentu saat itu, jelas, dengan tujuan
meraup rupiah sebanyak-banyaknya. Walaupun begitu, seperti yang sudah saya
katakan di atas, dengan kecerdasannya para personil Warkop DKI mampu berdiri
seimbang ditengah dua kutub perkomedian yang saling betentangan itu, sembari
tetap menghadirkan sikap kritis mereka meski secara “tersirat”. Di sinilah
kemudian yang membuat banyak orang terjebak, dengan mengaku penggemar setia
Warkop hanya berdasar apa yang mereka tonton dari film-filmnya. Seperti yang
dikatakan Sobary, “mereka adalah
penggemar dengan cinta buta, dikira Warkop di film sama dengan Warkop di radio
atau di panggung-panggung nonfilm”
Warkop DKI memang tak bisa menyembunyikan sikap dan
keberpihakannya, lagi-lagi saya menemukan tingkah dan laku yang membuat saya
semakin takjub, yang mana pada saat puncak karir mereka, idealisme itu masih
terang bersinar. Kala itu paruh awal 1998 ketika gejolak reformasi mulai
menunjukan wajahnya yang ditandai dengan berbagai aksi mahasiswa di penjuru
daerah terutama di Jakarta, dengan tuntutan agar Presiden Soeharto segera
diturunkan dari jabatannya. Spirit perjuangan mahasiswa itu membuat Dono yang
memang dari dulu dikenal sebagai aktivis pemuda dan mahasiswa, merasa gatal
untuk turun tangan dan secepatnya bergabung dalam barisan para pejuang,
sebagaimana yang dilakoninya pada tahun 1974 dahulu. Bersama sejumlah alumni UI
yang masih aktif mengorganisir pergerakan, Dono bertolak menuju Gedung MPR/DPR
RI yang pada saat itu sudah diduduki oleh mahasiswa, akibat keberhasilan mereka
mengelabui petugas dan merengsek masuk. Karena mendengar ada beberapa mahasiswa
yang sudah berhari-hari bertahan di seputaran gedung parlemen itu kekurangan
persediaan obat-obatan dan makanan, Dono dengan sigap mengantarkan kebutuhan
logistik itu langsung sampai kedalam gedung beratapkan kura-kura itu. Padahal
di luar sudah banyak tentara yang melarang setiap orang berkeliaran maupun
keluar masuk. Namun bukan Mas Bei (Dono) namanya jika tidak bisa lolos dari
larangan itu.
Bagi saya mereka bukan pelawak biasa melainkan
pelawak Plus yang sulit ditemukan hingga saat ini. Yang paling mendekati
sekarang adalah apa yang marak dikenal sebagai Stand Up Comedy (SUC). Sebuah
lawakan dengan peran tunggal yang tidak bertumpu pada kekuatan Slapstick, melainkan mengutamakan Set Up logika sederhana yang bermain
pada diksi-diksi keluh kesah terhadap diri sendiri, lingkungan dan orang
disekitar kemudian berujung kepada hal-hal lucu yang berasal dari patahan Set Up logika tadi (Punchline), dengan monolog, live
dihadapan audience. Ini bagus, sangat
menghibur dan saya menyukainya sebab melampui lawakan umumnya yang mendewakan Slapstick.
Tapi menurut saya sampai dengan saat ini SUC masih berperan sebagai sarana
hiburan biasa, tidak memiliki sebuah tema besar atau paling tidak digunakan
sebagai alat perjuangan sebagaimana yang pernah dicontohkan Warkop DKI dulu.
Jauh sebelum SUC muncul dan gegar dimana-mana, Warkop DKI telah lebih dahulu
mempraktekannya, lengkap dengan tema besar dan garis perjuangannya, tidak
percaya? lihat dan dengarkan rekaman mereka tahun 80 an yang judulnya sempat
saya paparkan di atas. Dari sini sudah terdapat perbedaan yang menganga soal
gaya Warkop DKI dan gaya SUC masa kini. Mungkin para anak muda yang bergelut
dalam dunia SUC ini perlu ditindas lagi seperti zaman orde tirani, agar lawakan
mereka sedikit bernyali. Ketika lawakan mereka meciptakan tawa, lawakan
Warkop DKI membuat tawa terjaga.**