Minggu, 25 Desember 2016

Selamat Natal

Sabtu 24 Desember 2016, Pukul 16.00 sore di depan televisi kamar tidur saya, secara tidak sengaja, dengan sebatang rokok ditangan kiri dan bersiap menyeruput segelas kopi, tampil di hadapan saya sebuah tayangan live event Metro TV. Di pandu presenter kawakan nan cantik yang otomatis tidak sulit bagi saya untuk menikmati pesonanya, ya, Prita Laura. Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya masih ingat betul, pernah berpose bersama mbak Prita dalam sebuah acara Ormas Nasdem dimana dia didaulat sebagai pembawa acara. 

Cahaya Indonesia di Vatikan, itulah judulnya. Di awali dengan perjalanan panjang dari Indonesia – Turki – Roma (jika saya tidak salah), tibalah sang Anchor cantik itu di Vatikan. Sekilas lewat layar kaca, Stato della Citta del Vaticano memang mempesona. Kesan yang saya tangkap dari Negara seluas 0.44 KM2 ini adalah sangat teduh dan menenangkan. Kekhusyukan umat Katolik yang sedang beribadah maupun para wistawan yang sekedar ingin menikmati kebesaran negara ini, membuat saya takjub. Nona Prita yang diliputi antusias tinggi segera menyusuri seluruh jalan, berkat jasa kameraman yang handal dan professional, saya pun turut mencium aroma aspal Vatikan dari televisi kecil saya.

Sempat mengikuti ibadah singkat berbahasa Indoensia di dalam sebuah Gereja, menurut nona manis ini adalah keberuntungan yang tak terkira dan perjalanan pun dilanjutkan. Suara merdu perempuan kelahiran tahun 1978 ini semakin membuat saya bangga, tatkala mewawancarai seorang cardinal yang merupakan orang kepercayaan Paus Fransiskus, dimana menurut sang Romo, Paus dan seluruh masyarakat Vatikan sangat mengidolai Pancasila. Sebagai orang Indonesia yang tunduk pada Ideologi negara, mata saya tak berkedip sedikitpun. Pancasila menurut sang Kardinal mewakili Paus, adalah sebuah pandangan hidup yang sangat kental dengan paham kemanusiaan universal dan hal ini sangat menginspirasi Paus beserta warganya. Luar biasa dan saya pun merenung.

Kejutan selanjutnya pun tiba, kali ini datang dari seorang petinggi Vatikan yang ternyata adalah orang asli Indonesia. Saya lagi – lagi menggelengkan kepala sembari tersenyum tanda penghormatan kepada beliau. Dengan senyum hangat khas Indonesia, lelaki paruh baya itu menyambut Prita dan tim, tentu dalam bahasa Indonesia yang fasih. Romo Markus diangkat oleh Paus Fransiskus sebagai Direktur Perdamaian Antar Agama Wilayah Asia Pasifik. Prita sempat diajak masuk ke dalam ruang kerjanya untuk berbincang – bincang. Di sela – sela obrolan mereka, Prita dengan lincah langsung melihat – lihat seisi ruangan. Yang menarik perhatian saya adalah ketika Prita meng-explore sebuah lemari yang terpajang berbagai benda penting (tentu bukan benda sembarangan yang diletakan disitu – menurut Romo) dan mempelototi satu persatu, tak berapa lama sampailah dia pada sebuah piagam penghargaan dengan logo sebuah organisasi yang akrab dengan saya, HMI. Tentu hal ini membuat saya bangga untuk kesekian kalinya, dimana HMI turut diperhitungkan Vatikan sebagai organisasi mahasiswa Islam yang membawa spirit perdamaian bagi seluruh dunia. Yakusa.

Ini yang membuat saya semakin merinding sekaligus sedih, perjalanan terakhir dari kunjungan sekaligus liputan ini adalah menjajal museum Vatikan. Sebuah museum terbaik di bumi, yang bernilai seni kelas kakap. Seluruh benda – benda bersejarah dari seantero dunia hadir disini. Prita pun segera melangkahkan kaki di sebuah ruangan berkaca yang tidak lain adalah stand khusus Indonesia. Di dalam terdapat berbagai karya seni asal Indonesia berupa patung, lukisan, pahatan relief, serta replika cantik candi Borobudur berserta penjelasan historisnya. Di sebuah sudut ruangan tepatnya disamping kanan pintu masuk, terbentang sebuah papan informasi besar yang berisikan penjelasan mengenai Indonesia. Pada kata – kata pembukanya tertulis, Indonesia adalah Negara Pluralis dan Toleran, dimana setiap orang yang berbeda suku dan agama dapat hidup secara rukun dan damai serta menjadi contoh bagi negara – negara di dunia. Seperti yang saya katakan pada saat mengawali paragraf ini, saya merinding dan sedih membaca profil Indonesia di dinding Museum Vatikan itu. Apa sebab? Liat saja kondisi bangsa saat ini apakah masih bisa dikatakan role mode bagi tumbuh kembangnya pluralitas dan toleransi?

Bahkan untuk mengucapkan selamat berhari raya diantara para pemeluk agama saja, butuh debat panjang dengan berbagai kelompok yang mengharamkan ucapan selamat bagi agama lain selain agama mereka. Padahal dasarnya saja masih gelap. Saya termasuk orang yang tidak ada masalah soal memberikan ucapan selamat kepada pemeluk agama lain. Saya menganggap ini tidak ada hubungannya dengan ketahanan iman. Persoalan iman bersentuhan langsung dengan tanggung jawab pribadi yang muatannya adalah tentang sejauh mana pribadi tersebut mengasah dan mempertajam keimanannya melalui usaha – usaha peningkatan mutu spritualnya.

Sebagai seorang Muslim, aqidah dan keimanan saya tidak serta merta tergerus kualitasya hanya dengan saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi seorang Kristiani (begitu juga sebaliknya). Hal itu menurut isi kepala saya merupakan penghormatan terhadap sesama manusia tidak ada yang lain. Juga dalam agama saya diajarkan untuk dapat membina hubungan yang baik antar sesama manusia dan menjaganya jangan sampai ada kerusakan dalam hubungan itu, selain tentu menjaga hubungan dengan Tuhan saya.

Sampai disini saya harus menyampaikan bahwa jangan takut untuk mengucapkan selamat berhari raya bagi pemeluk agama lain, jika Anda masih ragu atau merasa haram apabila melakukan hal tersebut, maka dapat dipastikan Anda adalah pribadi yang paling menjijikan di bumi yang haus akan kedamaian ini. Akhirnya dengan penuh penghormatan dan penghargaan, atas nama kemanusiaan, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Natal 25 Desember 2016 kepada seluruh umat Kristiani dimana pun berada. Tuhan Memberkati.

Tak terasa sudah 1 jam berlalu dan sampailah di akhir acara live event dari Vatikan yang ditutup oleh presenter idola saya, Prita Laura. Saya sangat menikmati acara ini karena sangat berkelas dan memberikan banyak pengetahuan baru. Dan tentu membuat saya tak henti – hentinya berpikir sesekali merenung dengan apa yang barusan saya dapatkan. Otak saya terlalu liar untuk mencerna dengan cara yang biasa terkait berbagai hal yang berhubungan dengan perdamaian di muka bumi ini. Saking liarnya, dua jari di tangan kiri saya hangus terbakar karena mengira saya tidak pernah menyalakan sebatang rokok.**


Tidak ada komentar:

Posting Komentar