Sabtu
24
Desember 2016, Pukul 16.00 sore di depan televisi kamar tidur saya, secara
tidak sengaja, dengan sebatang rokok ditangan kiri dan bersiap menyeruput
segelas kopi, tampil di hadapan saya sebuah tayangan live event Metro TV. Di pandu presenter kawakan nan cantik yang
otomatis tidak sulit bagi saya untuk menikmati pesonanya, ya, Prita Laura.
Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya masih ingat betul, pernah berpose bersama mbak
Prita dalam sebuah acara Ormas Nasdem dimana dia didaulat sebagai pembawa
acara.
Cahaya
Indonesia di Vatikan, itulah judulnya. Di awali dengan
perjalanan panjang dari Indonesia – Turki – Roma (jika saya tidak salah),
tibalah sang Anchor cantik itu di
Vatikan. Sekilas lewat layar kaca, Stato
della Citta del Vaticano memang mempesona. Kesan yang saya tangkap dari
Negara seluas 0.44 KM2 ini adalah sangat teduh dan menenangkan. Kekhusyukan umat Katolik yang sedang
beribadah maupun para wistawan yang sekedar ingin menikmati kebesaran negara ini, membuat saya takjub.
Nona Prita yang diliputi antusias tinggi segera menyusuri seluruh jalan, berkat
jasa kameraman yang handal dan professional, saya pun turut mencium aroma aspal
Vatikan dari televisi kecil saya.
Sempat mengikuti ibadah singkat berbahasa Indoensia
di dalam sebuah Gereja, menurut nona manis ini adalah keberuntungan yang tak
terkira dan perjalanan pun dilanjutkan. Suara merdu perempuan kelahiran tahun
1978 ini semakin membuat saya bangga, tatkala mewawancarai seorang cardinal yang merupakan orang kepercayaan
Paus Fransiskus, dimana menurut sang Romo, Paus dan seluruh masyarakat Vatikan
sangat mengidolai Pancasila. Sebagai orang Indonesia yang tunduk pada Ideologi
negara, mata saya tak berkedip sedikitpun. Pancasila menurut sang Kardinal
mewakili Paus, adalah sebuah pandangan hidup yang sangat kental dengan paham
kemanusiaan universal dan hal ini sangat menginspirasi Paus beserta warganya. Luar
biasa dan saya pun merenung.
Kejutan selanjutnya pun tiba, kali ini datang dari
seorang petinggi Vatikan yang ternyata adalah orang asli Indonesia. Saya lagi –
lagi menggelengkan kepala sembari tersenyum tanda penghormatan kepada beliau. Dengan
senyum hangat khas Indonesia, lelaki paruh baya itu menyambut Prita dan tim,
tentu dalam bahasa Indonesia yang fasih. Romo Markus diangkat oleh Paus
Fransiskus sebagai Direktur Perdamaian Antar Agama Wilayah Asia Pasifik. Prita
sempat diajak masuk ke dalam ruang kerjanya untuk berbincang – bincang. Di sela
– sela obrolan mereka, Prita dengan lincah langsung melihat – lihat seisi
ruangan. Yang menarik perhatian saya adalah ketika Prita meng-explore sebuah lemari yang terpajang
berbagai benda penting (tentu bukan benda sembarangan yang diletakan disitu –
menurut Romo) dan mempelototi satu persatu, tak berapa lama sampailah dia pada
sebuah piagam penghargaan dengan logo sebuah organisasi yang akrab dengan saya,
HMI. Tentu hal ini membuat saya bangga untuk kesekian kalinya, dimana HMI turut
diperhitungkan Vatikan sebagai organisasi mahasiswa Islam yang membawa spirit
perdamaian bagi seluruh dunia. Yakusa.
Ini yang membuat saya semakin merinding sekaligus
sedih, perjalanan terakhir dari kunjungan sekaligus liputan ini adalah menjajal
museum Vatikan. Sebuah museum terbaik di bumi, yang bernilai seni kelas kakap. Seluruh
benda – benda bersejarah dari seantero dunia hadir disini. Prita pun segera
melangkahkan kaki di sebuah ruangan berkaca yang tidak lain adalah stand khusus Indonesia. Di dalam terdapat
berbagai karya seni asal Indonesia berupa patung, lukisan, pahatan relief, serta replika cantik candi
Borobudur berserta penjelasan historisnya. Di sebuah sudut ruangan tepatnya
disamping kanan pintu masuk, terbentang sebuah papan informasi besar yang
berisikan penjelasan mengenai Indonesia. Pada kata – kata pembukanya tertulis,
Indonesia adalah Negara Pluralis dan Toleran, dimana setiap orang yang berbeda
suku dan agama dapat hidup secara rukun dan damai serta menjadi contoh bagi
negara – negara di dunia. Seperti yang saya katakan pada saat mengawali
paragraf ini, saya merinding dan sedih membaca profil Indonesia di dinding
Museum Vatikan itu. Apa sebab? Liat saja kondisi bangsa saat ini apakah masih
bisa dikatakan role mode bagi tumbuh
kembangnya pluralitas dan toleransi?
Bahkan untuk mengucapkan selamat berhari raya
diantara para pemeluk agama saja, butuh debat panjang dengan berbagai kelompok
yang mengharamkan ucapan selamat bagi agama lain selain agama mereka. Padahal dasarnya
saja masih gelap. Saya termasuk orang yang tidak ada masalah soal memberikan
ucapan selamat kepada pemeluk agama lain. Saya menganggap ini tidak ada
hubungannya dengan ketahanan iman. Persoalan iman bersentuhan langsung dengan
tanggung jawab pribadi yang muatannya adalah tentang sejauh mana pribadi
tersebut mengasah dan mempertajam keimanannya melalui usaha – usaha peningkatan
mutu spritualnya.
Sebagai seorang Muslim, aqidah dan keimanan saya tidak serta merta tergerus kualitasya
hanya dengan saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi seorang Kristiani
(begitu juga sebaliknya). Hal itu menurut isi kepala saya merupakan
penghormatan terhadap sesama manusia tidak ada yang lain. Juga dalam agama saya
diajarkan untuk dapat membina hubungan yang baik antar sesama manusia dan menjaganya
jangan sampai ada kerusakan dalam hubungan itu, selain tentu menjaga hubungan
dengan Tuhan saya.
Sampai disini saya harus menyampaikan bahwa jangan
takut untuk mengucapkan selamat berhari raya bagi pemeluk agama lain, jika Anda
masih ragu atau merasa haram apabila
melakukan hal tersebut, maka dapat dipastikan Anda adalah pribadi yang paling
menjijikan di bumi yang haus akan kedamaian ini. Akhirnya dengan penuh
penghormatan dan penghargaan, atas nama kemanusiaan, saya mengucapkan selamat
merayakan hari raya Natal 25 Desember 2016 kepada seluruh umat Kristiani dimana
pun berada. Tuhan Memberkati.
Tak terasa sudah 1 jam berlalu dan sampailah di
akhir acara live event dari Vatikan
yang ditutup oleh presenter idola saya, Prita Laura. Saya sangat menikmati
acara ini karena sangat berkelas dan memberikan banyak pengetahuan baru. Dan
tentu membuat saya tak henti – hentinya berpikir sesekali merenung dengan apa
yang barusan saya dapatkan. Otak saya terlalu liar untuk mencerna dengan cara
yang biasa terkait berbagai hal yang berhubungan dengan perdamaian di muka bumi
ini. Saking liarnya, dua jari di tangan kiri saya hangus terbakar karena mengira
saya tidak pernah menyalakan sebatang rokok.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar