Sabtu, 24 Desember 2016

No, Thanks

Beberapa minggu yang lalu dalam perjalanan pulang dari dari Jakarta ke Yogya, saya menerima sebuah SMS dari  nomor yang belum tercatat di handphone saya alias nomor baru. Kebetulan pada saat itu saya menumpangi Kereta Api Ekonomi Jaka Tingkir yang bertolak dari Jakarta Stasiun Pasar Senen Pukul 22.30 malam menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, yang diperkirakan akan tiba pada Pukul 07.30 pagi. Sebelum membuka SMS itu, mata saya masih sibuk, bersemangat bercampur penasaran mengejar kata demi kata yang tersusun rapi dalam satu buku yang saya tenteng menjadi pendamping paling berisik dengan berbagai gugatan terhadap kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam pengumpulan kekuatan ekonomi politik secara tidak sehat di Indonesia, curahan gugatan itu membuat hati saya tak henti – hentinya mengucapkan kata “waw” dan “oh begitu?”.  

Buku dengan judul Korupsi Kepresidenan ; Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga : Istana, Tangsi Dan Partai Politik terbitan LKiS Yogyakarta Tahun 2006, tentu dengan judul ganas seperti itu siapa lagi yang berani menulisnya jika bukan seorang Tokoh aktivis pergerakan kaliber berkelas dunia, dia adalah George Junus Aditjondro yang pada tanggal 10 Desember 2016 kemarin telah berpulang ke penciptanya dengan tenang di Palu, Sulawesi Tengah. Insya Allah seluruh amal kebaikan terutama kerja kerasnya dalam membongkar kejahatan kekuasaan yang zalim lewat penelitian dan tulisan yang ilmiah -saya juga pernah membaca hasil penelitian beliau mengenai rekayasa konflik berdarah antar agama di Maluku, Maluku Utara yang melibatkan elit politik lokal dan nasional- dapat menjadi modal utama Almarhum diterima dengan senyuman di sisi-Nya, Amin. R.I.P Om George.

Sejenak saya berhenti membaca sekaligus menandai halaman terkahir yang saya baca dari buku hebat itu. Mata saya langsung tertuju kepada SMS yang belum saya buka tadi. Seketika saya meraih handphone dan membaca SMS itu. Setelah membaca dengan seksama, ternyata SMS itu datang dari seorang teman lama yang akrab kami (saya dan teman-teman) sapa Tonton. SMS itu intinya adalah meminta kesediaan saya untuk bergabung dalam sebuah Group Whats App (WA), Group ini merupakan sebuah wadah alumni angkatan kuliah saya dulu di S1. Dengan sigap saya membalas SMS Tonton itu, yang intinya mengatakan saya belum bisa bergabung karena sampai dengan saat ini saya belum menggunakan aplikasi WA, mengingat handphone saya sudah tidak dapat lagi menginstall aplikasi lainnya karena keterbatasan storage. Tonton pun dapat memahami hal itu dan mengakhiri percakapan singkat kami lewat SMS dengan saling mendoakan agar sama – sama dapat lebih sukses di hari – hari kedepan. Amin.

Tanpa perintah, ingatan saya langsung terbang jauh kembali ke masa lalu, tentu dengan setengah tersenyum, refleks, bibir saya menyebut sebuah nama, Barton Anwar Hasto Widodo, yang tidak lain adalah nama sebenarnya dari teman saya tadi, Tonton. Masih berkutat dengan nostalgia ingatan, dengan terang saya dapat mengingat awal kebersamaan saya dengan Tonton. Pada awal – awal kuliah S1 dulu, saya dan Tonton sempat sekelas tepatnya dari semester I sampai VI. Dan jika saya tidak keliru, Tonton adalah Ketua kelasnya. Memang si Tonton ini dikenal sebagai seorang mahasiswa rajin serta komunikatif. Tidak hanya di dalam kelas, pertemanan saya dan Tonton berlanjut ke aktivitas luar kelas seperti nongkrong, belajar, berdiskusi, bermain, makan dan bertamasya bersama. Bahkan kami pernah bekerja sama dalam satu organisasi ekstra kampus, HMI. Dimana Tonton menjadi bawahan saya dalam struktur kepengurusan Komisariat di lingkungan fakultas kami,

Meskipun kami seangkatan, Tonton secara usia jauh lebih tua dari saya, karena setelah SMA Tonton tidak langsung makan bangku kuliah, dia memilih bekerja untuk memantapkan sakunya. Meski begitu dalam pertemanan antara saya dan Tonton, tidak mengenal tua dan muda. Kami tetap bergaul secara egaliter seperti teman sebaya pada umumnya, bahkan dalam titik yang paling ekstrem kami bisa saling mengejek satu sama lain bahkan menghina. Tentu semuanya masih dalam pakem guyonan. Di kalangan komunitas kami, Tonton dikenal agak sedikit pelit (berorientasi fulus), entah karena penghematan ataukah memang mau menabung untuk segera naik haji, hanya Tonton dan Tuhan yang tahu.

Saya termasuk orang yang mendorong Tonton agar dapat mengarahkan semua potensinya untuk bisa meningkatkan kemampuan organisatoris, dengan cara memberikan kesempatan kepada Tonton dalam setiap kegiatan organisasi, dimana Tonton selalu masuk dalam panitia inti di berbagai event. Dan memang Tonton bisa menyelesaikan semua tugas tersebut dengan hasil yang cukup maksimal. Tonton tampil perform dan menjadi motor penggerak kegiatan. Ketika itu saya dan teman – teman sangat puas dan memuji hasil kerja Tonton dalam berbagai hajatan kami.

Tonton lulus 6 bulan lebih cepat dari saya, dan setelah itu saya mendengar informasi dari teman bahwa Tonton memilih berkarir sebagai honorer di kantor Kejaksaan Tinggi. Mungkin ini adalah langkah awal dari Tonton untuk bisa mewujudkan cita – citanya menjadi seorang Jaksa. Sejak saat itu intensitas kami dalam pergaulan mulai menurun. Saya saat itu sedang sibuk – sibuknya mengurusi Skripsi yang terbengkalai akibat aktivitas extra kampus saya yang memerlukan konsentrasi lebih. Komunikasi kami benar – benar terputus pasca saya lulus dan pergi merantau mencari sesuap nasi di negeri seberang, Manado.

Kami pun tidak pernah lagi bertemu, seluruh kontak dengan Tonton lenyap. Sewaktu masih aktif menggunakan media sosial, pastinya dengan memanfaatkan waktu luang ketika sedang istrahat setelah seharian bekerja, sesekali saya iseng mengecek FB, tidak terlihat aktivitas FB dari Tonton, mungkin sudah di non aktifkan atau tidak digunakan lagi. Waktu pun berlalu dan kami benar – benar tidak pernah sekalipun bertegur sapa lagi, saya mahfum karena kondisi dan situasi sudah berbeda. Kami telah merelakan diri ditenggelamkan dalam urusan masing – masing dan tentu sangat beresiko apabila mencoba menanggalkan rutinitas itu.

Tahun – tahun berlalu begitu cepat, saya asyik dan menikmati pekerjaan, sehingga melupakan segalanya, termasuk Tonton. Kemudian ketika bertukar kabar, canda dan informasi dari seorang teman, yang juga sengkatan dengan saya dan Tonton, terseliplah pertanyaan dari saya tentang keberadaan si Tonton. Tak disangka berdasarkan paparan teman saya, pada saat itu Tonton telah meninggalkan pekerjaannya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di salah satu Universitas Swasta unggulan Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai teman saya turut mengapresiasi langkah Tonton ini, yang merupakan langkah maju dan terbaik.

Beberapa saat setelah percakapan saya dengan teman itu, saya menerima sebuah panggilan dari handphone saya dari sebuah nomor baru, dan ternyata itu dari Tonton. Kami pun langsung tertawa bersama dan menceritakan perkembangan kehidupan kami masing – masing. Setelah selesai berbasa – basi, Tonton mengutarakan inti dari tujuannya menelpon saya, dia mengalami kesulitan keuangan dan meminta saya untuk membantunya. Tapi saat itu rupanya bukan hari keberuntungan Tonton, karena saya pun mengalami masalah yang sama dengannya, dimana saya harus mempersiapkan masa transisi yang memerlukan banyak pengeluaran tanpa pemasukan, setelah mengajukan surat permohonan resign dari tempat kerja saya. Dan mirip Tonton, saya memutuskan melanjutkan study S2 di kampus yang juga adalah kampus yang sama dengan Tonton. Kami pun mengakhiri percakapan dengan hati yang kurang enak karena apa yang diharapkan Tonton belum bisa saya penuhi.

Sekitar 7 bulan kemudian saya mendaratkan kaki dengan selamat di Kota Yogyakarta yang konon kata beberapa “dukun cinta” adalah Kota yang paling romantis. Hal ini kata si dukun – dukun itu dapat di lihat dan dibuktikan dari setiap sudut Kotanya. Butuh waktu 2 bulan untuk membuktikan dan ternyata, benar. Saya tidak sabar lagi untuk segera memulai proses perkuliahan, karena berkat pertolongan Allah S.W.T, saya lulus dan diterima sebagai Mahasiswa Program Pascasarjana di kampus unggulan Indonesia tersebut.

Di sela – sela persiapan perkuliahan saya, terbesit di pikiran untuk menghubungi Tonton, sekedar ngopi dan bertatap muka karena setelah bertahun - tahun tidak bersua. Setelah dihubungi berulang - ulang ke telepon selulernya, si Boss Tonton in tidak pernah menanggapinya alias tidak pernah mengangkat. Bahkan pada waktu itu setiap 5 menit saya selalu berusaha menghubunginya. Yang mengherankan dia sempat membalas SMS saya mengatakan sedang berada di tempat temannya, tapi ketika di calling tidak ada jawaban hanya terdengar  nada masuk panggilan yang merdu itu.

Kegiatan menelepon Tonton ini saya laksanakan selama seminggu baik pagi, siang ataupun malam dan yang saya dapatkan lagi – lagi hanya tertawaan dari nada masuk panggilan yang merdu itu. Saya sempat tertawa sekaligus takjub, karena selama hidup, saya baru menemukan orang yang sibuknya kelas wahid sehingga tidak sempat menjawab teleponnya baik pagi, siang dan malam. “Gila! masih mahasiswa S2, belum jadi Presiden lho”, kata – kata itu mampir dan bertengger manis di benak saya. Sebagai manusia biasa, perasaan saya langsung memainkan perannya. Tak diduga, perasaan saya ternyata memainkan perannya dengan sangat apik, sehingga sampai pada 3 kesimpulan, Pertama, si Tonton mungkin tidak ingin menemui saya karena tahu saya tidak lagi bekerja sehingga takut dirinya dimintai uang sumbangan, Kedua, mungkin menurut dia tidak ada gunanya menemui saya karena sudah bisa dipastikan saya tidak dapat memberinya uang sumbangan, Ketiga, mungkin dia sudah mencoret saya dari daftar temannya. Padahal saya hanya ingin menyambung tali silaturahmi, tidak lebih. Jujur saja pada saat itu saya sulit berprasangka baik padanya, saya terlalu lama mengenal cara anak ini berfikir dan bertindak, sehingga sulit bagi saya untuk membunuh prasangka buruk. (belakangan saya mendapat informasi dari teman dan telah terkonfirmasi kebenarannya, bahwa si Tonton ini sewaktu berada di Ternate dalam rangka mengurus kepentingan pribadinya, meminta partisipasi aktif dari teman – teman seperjuangan saya dulu serta beberapa Alumni HMI untuk dapat membantu mencarikan uang tiket pesawat agar dirinya dapat kembali ke Yogyakarta melanjutkan aktivitas perkuliahannya. Ketika tiket telah didapatkan dan sewaktu tiba di Yogyakarta, Sang Tonton langsung menghilang tanpa mengabari orang – orang yang telah membantunya itu. Yang paling melukai hati adalah ketika dirinya dimintai tolong oleh seorang teman yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk membawa serta sebuah laptop bersama barang bawaannya kembali ke Kota Gudeg ini, dirinya menolak memberikan pertolongan dan langsung menaiki pesawat tercintanya. Selain menampakan kecacatan moril Tonton, peristiwa ini juga menunjukan ketololan para teman yang membantu kepulangannya ke Yogyakarta)

Setelah menimbang – nimbang dan berfikir secara mendalam, saya memutuskan tidak lagi menghubunginya dan ini akan berlaku selamanya. Saya berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan dirinya, baik secara verbal maupun electronic. Dan jika teman – teman saya yang membantunya seperti yang saya ceritakan di atas, berusaha membuat saya kembali respek padanya, bisa dipastikan saya akan menempeleng wajah mereka menggunakan celana dalam si Tonton. 10 bulan setelah kejadian tersebut, beberapa kali secara tidak sengaja, saya berpapasan dengan dirinya ketika sedang berada di perpustakaan kampus. Namun sesuai dengan komitmen diri saya, Tonton tetap diabaikan. Bahkan dia mencoba menyapa saya dengan hangat sekaligus akrab, tapi saya hanya tertawa, geleng kepala dan berlalu. Tonton sudah dihapus dari daftar orang yang pernah saya kenal dan saya bukan pribadi yang suka berbasa – basi dengan orang asing.

Kembali ke cerita 2 minggu yang lalu, soal Tonton yang ngebet ingin memasukan saya ke dalam Group WA alumni angkatan kuliah. Sebenarnya saya berbohong, saya masih dan aktif menggunakan WA. Bahkan seminggu sebelumnya, teman akrab saya bernama Chekes Pentes selaku admin dari Group itu, sempat memasukan saya kedalam Group bentukan Tonton tersebut, entah dengan misi terselubung apa. Setelah saya tahu bahwa Group itu diinisiasi oleh Tonton, dengan murka saya memerintahkan Chekes untuk segera menendang keluar saya dari Group itu. Emosi saya merasa dilecehkan apabila harus berada satu panggung dengan si kampret Tonton. Bukan sombong atau angkuh namun jiwa, raga dan hati saya masih trauma dengan perlakuannya dan terlebih saya takut dikerjai lagi. Saya pernah mengatakan kepada beberapa teman asal Ternate di Yogyakarta, bahwa apabila di masa depan saya bertemu lagi dengan Tonton di Ternate, bisa dipastikan dia akan “ditelanjangi”.

Sungguh dari hati yang paling dalam, saya telah lama merindukan seluruh teman – teman angkatan sewaktu kuliah dulu. Sejujurnya, andai saja di dalam Group itu tidak terdapat nama Tonton, saya pasti sangat antusias untuk dapat bergabung dan bersua lagi dengan seluruh teman – teman seperjuangan. Percayalah rindu ini milik kalian saudara – saudaraku. Kelak tanpa Tonton kita dapat bertemu dan berbagi cerita yang panjang. Atas keputusan dan pandangan pribadi saya ini, saya mohon agar saya diampuni. Kepada seluruh teman dan saudaraku alumni angkatan, saya selalu menaruh hormat dan selalu berdoa agar dimanapun kalian berada, kesehatan dan kesuksesan selalu menyertai langkah kalian semua. Amin. Kepada Tonton ketika saya membalas SMS Anda, dengan mengatakan saya tidak menggunakan WA, itu artinya saya sedang menertawakan Anda lalu berkata, “No, Thanks”.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar