Beberapa
minggu yang lalu dalam perjalanan pulang dari dari Jakarta ke Yogya, saya
menerima sebuah SMS dari nomor yang
belum tercatat di handphone saya alias nomor baru. Kebetulan pada saat itu saya
menumpangi Kereta Api Ekonomi Jaka Tingkir yang bertolak dari Jakarta Stasiun
Pasar Senen Pukul 22.30 malam menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, yang
diperkirakan akan tiba pada Pukul 07.30 pagi. Sebelum membuka SMS itu, mata
saya masih sibuk, bersemangat bercampur penasaran mengejar kata demi kata yang
tersusun rapi dalam satu buku yang saya tenteng
menjadi pendamping paling berisik dengan berbagai gugatan terhadap kerjasama
Pemerintah dan Swasta dalam pengumpulan kekuatan ekonomi politik secara tidak
sehat di Indonesia, curahan gugatan itu membuat hati saya tak henti – hentinya
mengucapkan kata “waw” dan “oh begitu?”.
Buku dengan judul Korupsi Kepresidenan ; Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga : Istana,
Tangsi Dan Partai Politik terbitan LKiS Yogyakarta Tahun 2006, tentu dengan
judul ganas seperti itu siapa lagi yang berani menulisnya jika bukan seorang
Tokoh aktivis pergerakan kaliber berkelas dunia, dia adalah George Junus Aditjondro yang pada
tanggal 10 Desember 2016 kemarin telah berpulang ke penciptanya dengan tenang
di Palu, Sulawesi Tengah. Insya Allah seluruh amal kebaikan terutama kerja
kerasnya dalam membongkar kejahatan kekuasaan yang zalim lewat penelitian dan
tulisan yang ilmiah -saya juga pernah membaca hasil
penelitian beliau mengenai rekayasa konflik berdarah antar agama di Maluku,
Maluku Utara yang melibatkan elit politik lokal dan nasional-
dapat menjadi modal utama Almarhum diterima dengan senyuman di sisi-Nya, Amin. R.I.P
Om George.
Sejenak saya berhenti membaca sekaligus menandai
halaman terkahir yang saya baca dari buku hebat itu. Mata saya langsung tertuju
kepada SMS yang belum saya buka tadi. Seketika saya meraih handphone dan
membaca SMS itu. Setelah membaca dengan seksama, ternyata SMS itu datang dari
seorang teman lama yang akrab kami (saya dan teman-teman) sapa Tonton. SMS itu
intinya adalah meminta kesediaan saya untuk bergabung dalam sebuah Group Whats App (WA), Group ini merupakan
sebuah wadah alumni angkatan kuliah saya dulu di S1. Dengan sigap saya membalas
SMS Tonton itu, yang intinya mengatakan saya belum bisa bergabung karena sampai
dengan saat ini saya belum menggunakan aplikasi WA, mengingat handphone saya
sudah tidak dapat lagi menginstall aplikasi lainnya karena keterbatasan storage. Tonton pun dapat memahami hal
itu dan mengakhiri percakapan singkat kami lewat SMS dengan saling mendoakan
agar sama – sama dapat lebih sukses di hari – hari kedepan. Amin.
Tanpa perintah, ingatan saya langsung terbang jauh
kembali ke masa lalu, tentu dengan setengah tersenyum, refleks, bibir saya
menyebut sebuah nama, Barton Anwar Hasto Widodo, yang tidak lain adalah nama
sebenarnya dari teman saya tadi, Tonton. Masih berkutat dengan nostalgia
ingatan, dengan terang saya dapat mengingat awal kebersamaan saya dengan Tonton.
Pada awal – awal kuliah S1 dulu, saya dan Tonton sempat sekelas tepatnya dari
semester I sampai VI. Dan jika saya tidak keliru, Tonton adalah Ketua kelasnya.
Memang si Tonton ini dikenal sebagai seorang mahasiswa rajin serta komunikatif.
Tidak hanya di dalam kelas, pertemanan saya dan Tonton berlanjut ke aktivitas luar
kelas seperti nongkrong, belajar, berdiskusi, bermain, makan dan bertamasya
bersama. Bahkan kami pernah bekerja sama dalam satu organisasi ekstra kampus,
HMI. Dimana Tonton menjadi bawahan saya dalam struktur kepengurusan Komisariat
di lingkungan fakultas kami,
Meskipun kami seangkatan, Tonton secara usia jauh
lebih tua dari saya, karena setelah SMA Tonton tidak langsung makan bangku kuliah,
dia memilih bekerja untuk memantapkan sakunya. Meski begitu dalam pertemanan
antara saya dan Tonton, tidak mengenal tua dan muda. Kami tetap bergaul secara
egaliter seperti teman sebaya pada umumnya, bahkan dalam titik yang paling
ekstrem kami bisa saling mengejek satu sama lain bahkan menghina. Tentu semuanya
masih dalam pakem guyonan. Di kalangan komunitas kami, Tonton dikenal agak
sedikit pelit (berorientasi fulus), entah
karena penghematan ataukah memang mau menabung untuk segera naik haji, hanya
Tonton dan Tuhan yang tahu.
Saya termasuk orang yang mendorong Tonton agar dapat
mengarahkan semua potensinya untuk bisa meningkatkan kemampuan organisatoris,
dengan cara memberikan kesempatan kepada Tonton dalam setiap kegiatan
organisasi, dimana Tonton selalu masuk dalam panitia inti di berbagai event. Dan memang Tonton bisa
menyelesaikan semua tugas tersebut dengan hasil yang cukup maksimal. Tonton
tampil perform dan menjadi motor
penggerak kegiatan. Ketika itu saya dan teman – teman sangat puas dan memuji
hasil kerja Tonton dalam berbagai hajatan kami.
Tonton lulus 6 bulan lebih cepat dari saya, dan
setelah itu saya mendengar informasi dari teman bahwa Tonton memilih berkarir
sebagai honorer di kantor Kejaksaan
Tinggi. Mungkin ini adalah langkah awal dari Tonton untuk bisa mewujudkan cita
– citanya menjadi seorang Jaksa. Sejak saat itu intensitas kami dalam pergaulan
mulai menurun. Saya saat itu sedang sibuk – sibuknya mengurusi Skripsi yang
terbengkalai akibat aktivitas extra
kampus saya yang memerlukan konsentrasi lebih. Komunikasi kami benar – benar
terputus pasca saya lulus dan pergi merantau mencari sesuap nasi di negeri
seberang, Manado.
Kami pun tidak pernah lagi bertemu, seluruh kontak
dengan Tonton lenyap. Sewaktu masih aktif menggunakan media sosial, pastinya
dengan memanfaatkan waktu luang ketika sedang istrahat setelah seharian
bekerja, sesekali saya iseng mengecek FB, tidak terlihat aktivitas FB dari
Tonton, mungkin sudah di non aktifkan atau tidak digunakan lagi. Waktu pun
berlalu dan kami benar – benar tidak pernah sekalipun bertegur sapa lagi, saya mahfum karena kondisi dan situasi sudah
berbeda. Kami telah merelakan diri ditenggelamkan
dalam urusan masing – masing dan tentu sangat beresiko apabila mencoba
menanggalkan rutinitas itu.
Tahun – tahun berlalu begitu cepat, saya asyik dan menikmati
pekerjaan, sehingga melupakan
segalanya, termasuk Tonton. Kemudian ketika bertukar kabar, canda dan informasi
dari seorang teman, yang juga sengkatan dengan saya dan Tonton, terseliplah
pertanyaan dari saya tentang keberadaan si Tonton. Tak disangka berdasarkan
paparan teman saya, pada saat itu Tonton telah meninggalkan pekerjaannya dan
melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di salah satu Universitas Swasta unggulan Indonesia
yang berkedudukan di Yogyakarta. Sebagai teman saya turut mengapresiasi langkah
Tonton ini, yang merupakan langkah maju dan terbaik.
Beberapa saat setelah percakapan saya dengan teman
itu, saya menerima sebuah panggilan dari handphone saya dari sebuah nomor baru,
dan ternyata itu dari Tonton. Kami pun langsung tertawa bersama dan
menceritakan perkembangan kehidupan kami masing – masing. Setelah selesai
berbasa – basi, Tonton mengutarakan inti dari tujuannya menelpon saya, dia
mengalami kesulitan keuangan dan meminta saya untuk membantunya. Tapi saat itu
rupanya bukan hari keberuntungan Tonton, karena saya pun mengalami masalah yang
sama dengannya, dimana saya harus mempersiapkan masa transisi yang memerlukan
banyak pengeluaran tanpa pemasukan, setelah mengajukan surat permohonan resign dari tempat kerja saya. Dan mirip
Tonton, saya memutuskan melanjutkan study S2 di kampus yang juga adalah kampus
yang sama dengan Tonton. Kami pun mengakhiri percakapan dengan hati yang kurang
enak karena apa yang diharapkan Tonton belum bisa saya penuhi.
Sekitar 7 bulan kemudian saya mendaratkan kaki
dengan selamat di Kota Yogyakarta yang konon kata beberapa “dukun cinta” adalah Kota yang paling romantis. Hal ini kata si
dukun – dukun itu dapat di lihat dan dibuktikan dari setiap sudut Kotanya. Butuh
waktu 2 bulan untuk membuktikan dan ternyata, benar. Saya tidak sabar lagi
untuk segera memulai proses perkuliahan, karena berkat pertolongan Allah S.W.T,
saya lulus dan diterima sebagai Mahasiswa Program Pascasarjana di kampus
unggulan Indonesia tersebut.
Di sela – sela persiapan perkuliahan saya, terbesit
di pikiran untuk menghubungi Tonton, sekedar ngopi dan bertatap muka karena setelah bertahun - tahun tidak
bersua. Setelah dihubungi berulang - ulang ke telepon selulernya, si Boss
Tonton in tidak pernah menanggapinya alias tidak pernah mengangkat. Bahkan pada
waktu itu setiap 5 menit saya selalu berusaha menghubunginya. Yang mengherankan
dia sempat membalas SMS saya mengatakan sedang berada di tempat temannya, tapi
ketika di calling tidak ada jawaban
hanya terdengar nada masuk panggilan
yang merdu itu.
Kegiatan menelepon Tonton ini saya laksanakan selama
seminggu baik pagi, siang ataupun malam dan yang saya dapatkan lagi – lagi
hanya tertawaan dari nada masuk panggilan yang merdu itu. Saya sempat tertawa
sekaligus takjub, karena selama hidup, saya baru menemukan orang yang sibuknya
kelas wahid sehingga tidak sempat menjawab teleponnya baik pagi, siang dan
malam. “Gila! masih mahasiswa S2, belum
jadi Presiden lho”, kata – kata itu mampir dan bertengger manis di benak
saya. Sebagai manusia biasa, perasaan saya langsung memainkan perannya. Tak
diduga, perasaan saya ternyata memainkan perannya dengan sangat apik, sehingga
sampai pada 3 kesimpulan, Pertama, si
Tonton mungkin tidak ingin menemui saya karena tahu saya tidak lagi bekerja
sehingga takut dirinya dimintai uang sumbangan, Kedua, mungkin menurut dia tidak ada gunanya menemui saya karena
sudah bisa dipastikan saya tidak dapat memberinya uang sumbangan, Ketiga, mungkin dia sudah mencoret saya
dari daftar temannya. Padahal saya hanya ingin menyambung tali silaturahmi,
tidak lebih. Jujur saja pada saat itu saya sulit berprasangka baik padanya,
saya terlalu lama mengenal cara anak ini berfikir dan bertindak, sehingga sulit
bagi saya untuk membunuh prasangka buruk. (belakangan saya mendapat informasi
dari teman dan telah terkonfirmasi kebenarannya, bahwa si Tonton ini sewaktu
berada di Ternate dalam rangka mengurus kepentingan pribadinya, meminta
partisipasi aktif dari teman – teman seperjuangan saya dulu serta beberapa
Alumni HMI untuk dapat membantu mencarikan uang tiket pesawat agar dirinya dapat
kembali ke Yogyakarta melanjutkan aktivitas perkuliahannya. Ketika tiket telah
didapatkan dan sewaktu tiba di Yogyakarta, Sang Tonton langsung menghilang
tanpa mengabari orang – orang yang telah membantunya itu. Yang paling melukai
hati adalah ketika dirinya dimintai tolong oleh seorang teman yang sedang
menempuh pendidikan di Yogyakarta untuk membawa serta sebuah laptop bersama
barang bawaannya kembali ke Kota Gudeg ini, dirinya menolak memberikan
pertolongan dan langsung menaiki pesawat tercintanya. Selain menampakan kecacatan moril Tonton, peristiwa ini
juga menunjukan ketololan para teman
yang membantu kepulangannya ke Yogyakarta)
Setelah menimbang – nimbang dan berfikir secara
mendalam, saya memutuskan tidak lagi menghubunginya dan ini akan berlaku
selamanya. Saya berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan dirinya, baik
secara verbal maupun electronic. Dan jika teman – teman saya
yang membantunya seperti yang saya ceritakan di atas, berusaha membuat saya
kembali respek padanya, bisa
dipastikan saya akan menempeleng wajah mereka menggunakan celana dalam si
Tonton. 10 bulan setelah kejadian tersebut, beberapa kali secara tidak sengaja,
saya berpapasan dengan dirinya ketika sedang berada di perpustakaan kampus.
Namun sesuai dengan komitmen diri saya, Tonton tetap diabaikan. Bahkan dia
mencoba menyapa saya dengan hangat sekaligus akrab, tapi saya hanya tertawa,
geleng kepala dan berlalu. Tonton sudah dihapus dari daftar orang yang pernah
saya kenal dan saya bukan pribadi yang suka berbasa – basi dengan orang asing.
Kembali ke cerita 2 minggu yang lalu, soal Tonton
yang ngebet ingin memasukan saya ke
dalam Group WA alumni angkatan kuliah. Sebenarnya saya berbohong, saya masih
dan aktif menggunakan WA. Bahkan seminggu sebelumnya, teman akrab saya bernama
Chekes Pentes selaku admin dari Group itu, sempat memasukan saya kedalam Group
bentukan Tonton tersebut, entah dengan misi terselubung apa. Setelah saya tahu
bahwa Group itu diinisiasi oleh Tonton, dengan murka saya memerintahkan Chekes
untuk segera menendang keluar saya dari Group itu. Emosi saya merasa dilecehkan
apabila harus berada satu panggung dengan si kampret Tonton. Bukan sombong atau angkuh namun jiwa, raga dan hati
saya masih trauma dengan perlakuannya dan terlebih saya takut dikerjai lagi. Saya pernah mengatakan
kepada beberapa teman asal Ternate di Yogyakarta, bahwa apabila di masa depan
saya bertemu lagi dengan Tonton di Ternate, bisa dipastikan dia akan “ditelanjangi”.
Sungguh dari hati yang paling dalam, saya telah lama
merindukan seluruh teman – teman angkatan sewaktu kuliah dulu. Sejujurnya, andai
saja di dalam Group itu tidak terdapat nama Tonton, saya pasti sangat antusias
untuk dapat bergabung dan bersua lagi dengan seluruh teman – teman seperjuangan.
Percayalah rindu ini milik kalian saudara – saudaraku. Kelak tanpa Tonton kita
dapat bertemu dan berbagi cerita yang panjang. Atas keputusan dan pandangan
pribadi saya ini, saya mohon agar saya diampuni. Kepada seluruh teman dan
saudaraku alumni angkatan, saya selalu menaruh hormat dan selalu berdoa agar
dimanapun kalian berada, kesehatan dan kesuksesan selalu menyertai langkah
kalian semua. Amin. Kepada Tonton ketika saya membalas SMS Anda, dengan
mengatakan saya tidak menggunakan WA, itu artinya saya sedang menertawakan Anda
lalu berkata, “No, Thanks”.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar